Ramai-ramai Menertawakan “Slip of Tongue”

8.189 Views

OLEH: Lukman Hamarong
Fenomena slip of tongue atau keseleo lidah bukanlah hal asing di panggung politik, terlebih bagi seorang kepala negara yang berpidato di hadapan publiknya sendiri. 

Presiden Prabowo Subianto pun kerap menjadi korban atas pidatonya sendiri yang terlalu berapi-api. Di satu sisi bisa memotivasi, di sisi lain bisa jadi boomerang. 

Yang terbaru, saat Presiden Prabowo menyebut angka Rp700.000 per kg untuk upah pengupas bawang, reaksi publik langsung memperlihatkan dua sisi cermin digital kita. 

Di satu sisi, humor dan satire memang menjadi bagian dari artikulasi politik. Namun, batas antara kritik humoris dan perundungan digital sering kali mengabur.

Ini yang kemudian saya melihatnya sebagai perlakuan yang kurang adil dan elok terhadap pemimpin kita sendiri. Tidak ada yang sempurna. Kita pun kerap salah berucap. 

Setiap kata yang diucapkan oleh seorang pemimpin dalam ajang resmi, seperti Pidato Kenegaraan HUT Kemerdekaan memang memiliki bobot politik yang tinggi. 

Namun, kesalahan teknis yang kecil, seperti slip of tongue, dengan mudah memicu reaksi sinisme yang utuh karena publik menuntut kesempurnaan dari seorang pemimpin.

Di ruang siber, empati terkikis oleh dorongan mengejar konten viral. Slip of tounge yang harusnya menjadi catatan kecil berubah menjadi amunisi olok-olokan secara masif. 

Kecepatan menyebarkan meme satire acapkali mendorong seseorang untuk tidak memaafkan kelirunya sebuah ucapan. Kita melabeli manusia itu tidak boleh salah.

Padahal etika publik di ruang-ruang digital sangat kita harapkan agar perilaku warganet tetap dalam batas kewajaran. Tidak membenci, tidak pula menyakiti dengan ejekan. 

Fenomena ini memotret kebiasaan publik yang melampaui batas. Ketika koreksi berubah menjadi olok-olokan, maka ada standar ganda dalam melihat kesempurnaan manusia. 

Di satu sisi, kita acapkali menuntut kesempurnaan tanpa celah dari orang lain. Namun, di sisi lain, kita juga kerap melupakan adanya potensi kekhilafan dari kita sendiri.

Kritik terhadap pejabat publik adalah hak warga negara yang dilindungi. Namun, memahami slip of tounge adalah hal fundamental dalam menjaga kualitas wacana publik. 

Mengoreksi kekeliruan dengan sindiran dan nyinyiran ad hominem hanya memperkeruh ruang publik tanpa memberi nilai tambah bagi pendidikan politik masyarakat.

Pada akhirnya, kita akan mengetahui mana yang berniat memperbaiki kekeliruan, dan mana yang hanya ingin menjauhkan diskursus publik dari esensi sebenarnya.

Pak Presiden Prabowo, saya adalah ASN yang tetap bediri menjaga muruah pemerintahan yang Bapak pimpin, tanpa harus masuk ke dalam kubangan kebencian. 

Tetaplah bekerja dengan niat baik, Pak! Karena rakyat Indonesia tidak menginginkan kegaduhan. Ruang digital kita butuh lebih banyak energi positif. Merdekaaaaa...! (LHR) 

Posting Komentar untuk "Ramai-ramai Menertawakan “Slip of Tongue”"