Bahlil, Jokowi, Gibran, dan Messi: Berkah di Balik Merekahnya Kebencian

8.189 Views

OLEH: Lukman Hamarong
Masih ingat lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” yang viral di berbagai platform media sosial, seperti di TikTok, Facebook, dan Instagram? Sampai saat ini, lagu tersebut acapkali dinyanyikan oleh anak-anak. Bahkan orang dewasa pun hapal lagu bernuansa satire politik ini.

Sebenarnya sosok yang dijadikan “olok-olokan” dalam lagu ini adalah Bahlil Lahadalia. Pria penuh kontroversi yang tak jarang memantik perdebatan lewat pernyataan-pernyataannya di publik ini, rupanya mendapatkan "berkah terselubung" dari lagu “MBG” tersebut.

Sebenarnya lagu MBG ini lahir dari rahim satire, sebuah sindiran halus untuk mengejek seseorang. Namun, psikologi massa acapkali bekerja dengan cara tidak terduga. Bukannya menenggelamkan, lagu ini justru bertransformasi menjadi “blessing in disguise” bagi Bahlil.

Lagu ini pun viral dan merembes ke mana-mana. Dari ruang kelas sekolah, dari halaman rumah, jalanan, hingga disuarakan di forum-forum resmi. Bahlil, secara tak sengaja, mendapat amplifikasi panggung gratis yang luar biasa masif berkat daya kreasi para pengkritiknya.

Bahlil terus memanen kebaikan. Popularitasnya meningkat, wajahnya makin familiar akibat lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng”. Anak sekolah pun ingin melihat sosok Bahlil. Terbukti, dalam sebuah acara, anak-anak malah mengerumuni Bahlil. Ibarat semut ketemu gula. 

Fenomena Bahlil yang juga seorang menteri ini bukan cerita baru dalam timeline sejarah maupun panggung hiburan global. Pola ini terus berulang pada tokoh-tokoh besar lain yang kerap popular dan menjadi magnet yang mampu menarik simpati publik dunia nyata. 

Sebut saja Jokowi dan Gibran Rakabuming Raka. Makin keras hantaman narasi negatif dan ejekan dialamatkan kepadanya, makin solid dan meluas basis popularitas yang terbangun. Ejekan kerap berubah menjadi empati publik, dan simpati berubah menjadi dukungan riil.

Bila kita tarik fenomena ini ke spektrum yang lebih luas, maka sosok Lionel Messi masuk dalam kategori “berkah di balik kebencian”. Sepanjang kariernya, Messi kerap dicemooh dan diragukan loyalitasnya. Namun, setiap siulan cemoohan justru dibalas dengan prestasi.

Dari fenomena ini saya bisa berkesimpulan bahwa ketika kebencian dikemas sebagai serangan sporadis nan masif, maka kebencian itu acapkali kehilangan taringnya, dan justru berbalik menjadi bahan bakar paling efektif untuk mendongkrak popularitas orang yang dibenci.

Inilah hukum alam di balik kebencian yang terus dipelihara. Mengapa kebencian justru sering kali mendulang “emas” bagi orang yang dibenci? Di era digital, perhatian adalah segalanya. Apapun motivasinya, kebencian memanjangkan masa edar seseorang di ingatan publik.

Kebencian akan menghukum seseorang dan menjadi bumerang psikologis. Makin keras seseorang dipojokkan secara satire, maka publik yang netral cenderung merespons dengan rasa penasaran, yang lambat laun bergeser menjadi rasa pemakluman atau bahkan simpati.

Inilah yang kemudian saya hadapi sejak kemunculan sosok Jokowi di Kota Surakarta (Solo). Sejak kemunculannya di ranah publik, saya tak sedikit pun peduli siapa sosok Wali Kota ini. Pun saat dia maju sebagai Gubernur DKI, dukungan saya ke sosok Hidayat Nur Wahid kala itu.

Bagi saya, Jokowi adalah pejabat publik yang biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Namun, dia acapkali mendapatkan keuntungan akibat terus-terusan dicemooh lawan politiknya sendiri. Dia selalu mendapatkan energi positif dari pancaran energi negatif pembencinya.

Saat Jokowi maju di kontestasi Pemilihan Presiden pada 2014, saya tidak tertarik akan sosoknya. Namun, entah kenapa, jiwa ini menjadi terusik saat Jokowi terus-terusan diserang berbagai fitnah dari berbagai penjuru mata angin. Hati ini pedih melihat parade kebencian.

Dari situlah empati muncul. Saya menganggap Jokowi merupakan sosok yang tenang dan matang secara mental, sehingga dia tak akan hancur oleh cemoohan. Para pembenci melemparkan batu-batu kepada yang dibencinya untuk dijadikan fondasi menara kemenangan.

Nah, pertanyaan saya kemudian adalah “masih sukakah kita membenci satu sama lain?” Dinamika lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” serta fenomena para tokoh tadi memberikan pelajaran berharga bahwa membenci hanya akan memberikan energi positif kepada yang dibenci.

Membenci seseorang dengan harapan orang tersebut akan hancur, jatuh, lemah, dan menderita, atau berharap akan membalas dan melawan lewat amarah pula, nyatanya acapkali hanya menjadi cara kita memenjarakan diri sendiri dalam ruang emosi yang melelahkan.

Bahlil, Jokowi, Gibran, dan Messi adalah sosok yang bisa memberikan kita pelajaran terbaik akan hakikat kehidupan yang sebenarnya. Bahwa kebencian akan menjatuhkan diri sendiri. Sebaliknya yang dibenci akan terus memanen kebaikan, dan simpati publik. (LHR)

Posting Komentar untuk "Bahlil, Jokowi, Gibran, dan Messi: Berkah di Balik Merekahnya Kebencian"