OLEH: Lukman Hamarong
Rasa kagum yang terhalang oleh ruang dan waktu acapkali menemukan cara tersendiri yang tidak terduga sama sekali. Pun dengan kekaguman saya kepada sosok Ganjar Pranowo, politikus PDI-P yang pagi tadi secara tak terduga berpapasan dengan saya.
Saya telah lama mengikuti sepak terjang Ganjar Pranowo sejak beliau menjabat sebagai anggota DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan selama dua periode, yaitu 2004 hingga mengundurkan diri pada tahun 2013 karena terpilih sebagai Gubernur Jawa Tengah.
Wajahnya kerap menghiasi layar televisi nasional sebagai narasumber yang mengupas berbagai persoalan bangsa. Dari raut wajah, gestur tubuh, tutur bahasa, serta gagasan cemerlang yang ia lontarkan menandakan beliau sosok yang cerdas dan pekerja keras.
Ingatan publik tentu tak bisa hilang begitu saja ditelan oleh waktu. Saat badai pandemi Covid-19 menghantam Indonesia, Ganjar yang masih menjabat Gubernur Jawa Tengah waktu itu, mampu mengendalikan Covid-19 dengan protokol kesehatan yang ketat.
Gebrakan Ganjar pada masa pandemi Covid-19 ini merupakan prestasi tersendiri. Mengingat tak banyak daerah yang mampu mengendalikan virus mematikan yang sempat mewabah di sejumlah wilayah yang ada di Indonesia beberapa tahun yang lalu.
Kepemimpinan Ganjar Pranowo di Jawa Tengah yang dikenal tegas dan cakap dalam tata kelola pemerintahan berhasil menarik perhatian publik. Kenaikan popularitasnya ini kemudian berimbas langsung pada lonjakan elektabilitasnya menjelang Pilpres 2024.
Ganjar adalah sosok pemimpin yang baik. Meskipun belum berhasil pada Pilpres 2024 lalu, Ganjar tetap dinilai sebagai sosok pemimpin yang mampu membawa harapan bagi Indonesia. Ia adalah aset bangsa yang diharapkan bisa membantu pemerintahan saat ini.
Namun, terlepas dari itu semua, ada hal menarik yang membuat saya bisa menuntaskan salah satu mimpi terindah saya, yaitu bertemu dan mengabadikan diri bersama Ganjar. Ya, momentum tak terduga itu benar-benar bagaikan “pucuk dicinta ulam pun tiba”.
Pagi tadi, suasana di sekitar Kantor Wali Kota Palopo terasa segar. Mimpi lama yang tersimpan itu akhirnya menemukan takdirnya. Di sudut Kantor Wali Palopo, sosok tinggi kurus, berambut putih, dan memakai topi, itu tetiba muncul dan berjalan ke arah saya.
Wajah Ganjar yang biasanya hanya menyapa dari layar kaca televisi nasional itu kini berdiri nyata di hadapan saya. Tanpa sekat protokoler yang ketat dan pengawalan yang kaku, momen kebetulan itu berlanjut dengan sapaan yang begitu akrab di antara kami.
“Pagi, Pak Ganjar.” Saya menyapanya spontan. Ia pun meresponsnya dengan hangat. “Pagi juga,” Saya pun melayangkan izin untuk foto dengannya. “Boleh foto, Pak?” Ia pun menjawab “boleh”. Jadilah foto kami berdua, sekaligus bukti sahih perjumpaan singkat tersebut.
Sebenarnya perjumpaan tak terencana ini membuat naluri jurnalistik saya membuncah. Namun, saya tahu diri saja, dan tidak ingin mengganggu aktivitas olahraganya. Saya ingin menjaga pikiran segarnya di pagi hari agar tidak terbebani pertanyaan-pertanyaan yang rumit.
Perjumpaan singkat ini menegaskan satu hal bahwa keramahan seorang pemimpin tidak hanya tampak di atas panggung televisi, tetapi juga tercermin dalam kesahajaan sikapnya di ruang-ruang publik sehari-hari, termasuk saat dia asyik jogging ria di kota Palopo.
Sekali lagi, ini bukan tentang mengkultuskan seorang tokoh. Karena kebiasaan yang terus saya rawat dan pelihara sampai saat ini adalah melihat siapa pun sebagai orang baik yang tidak pantas dibenci. Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah ruang belajar. (LHR)

Posting Komentar untuk "Pucuk Dicinta Ulam Pun Tiba; Secarik Kisah Berpapasan Ganjar Pranowo di Kota Palopo"