![]() |
| Pj Sekda Palopo, Andi Poci, ngopi bersama wartawan. |
SORE itu di sudut Hao Xiang Warkop, Kota Palopo, aroma kopi hitam bercampur wangi roti mantou hangat. Puluhan jurnalis lokal sudah duduk melingkar di meja kayu. Di tengah mereka, Andi Poci, alumni IPDN yang akrab disapa Petta, duduk santai tanpa stelan dinas. Ia datang mengendarai motor matic sendiri, tanpa pengawalan ajudan. Hanya kaos dan celana jins.
Seorang wartawan sempat bertanya mengapa ia tak menempati rumah dinas Sekretaris Daerah dan enggan menggunakan mobil dinas berpelat DP 6. Andi Poci hanya tersenyum tanpa memberi jawaban formal. Kesederhanaannya dibiarkan berbicara sendiri.
Pertemuan perdana sejak pasangan Naili Trisal dan Akhmad Syarifuddin memimpin Palopo ini semula dikemas sebagai silaturahmi. Namun, suasana cepat berubah menjadi ruang pengaduan. Keluhan mengalir tanpa basa-basi. Beberapa wartawan menyoroti sulitnya menembus konfirmasi pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Mereka mengkritik hal itu, hingga menyoroti prilaku kepala dinas 'ghaib' yang jarang terlihat di kantor.
“Kami mencari informasi, bukan mengemis,” ujar seorang wartawan. “Kalau pejabatnya susah ditemui, bagaimana kebijakan publik bisa transparan?”
Isu anggaran kerja sama media yang dinilai masih minim dan merata pun ikut mengemuka. Kritik itu tajam dan langsung menghantam. Menghadapi situasi tersebut, Andi Poci yang menjabat sebagai Penjabat Sekretaris Daerah sekaligus Asisten Pemerintahan Kota Palopo tidak bersikap defensif. Ia menyeruput kopi, tersenyum, lalu menjawab dengan kelakar.
Tensi pelan-pelan mereda. Ia menjanjikan penambahan anggaran publikasi agar adil dan merata, serta menyampaikan rencana memfasilitasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) kedepannya, sebagai langkah konkret untuk menaikkan kelas pers lokal.
“Catatan ini saya tampung,” katanya. “Pertemuan di warkop ini tidak boleh berhenti jadi seremonial. Kita buat rutin.”
Keterbukaan informasi ini dinilai krusial karena pemerintah kota tengah memacu sejumlah agenda besar. Setelah ketegangan surut, pembicaraan pun bergeser ke ranah substansi. Andi Poci memaparkan hasil lobi Wali Kota Naili Trisal di Jakarta. Palopo berhasil mengamankan anggaran pusat untuk sejumlah proyek infrastruktur, seperti jaringan pipa air PDAM di Battang, perluasan Instalasi Pengolahan Air Minum di Bambalu dan Batu Papan, serta kelanjutan proyek jalan daerah. Ia juga menyebut secara terbuka dukungan anggota DPR RI, Andi Iwan Aras, di balik proyek tersebut.
Namun, pekerjaan rumah terbesar justru ada di internal birokrasi. Andi Poci menegaskan bahwa pemerintah kota tengah menyiapkan manajemen talenta untuk mutasi jabatan.
“Ke depan, penempatan pejabat eselon harus berdasarkan kompetensi, rekam jejak, dan latar belakang pendidikan. Tidak ada lagi istilah titipan,” ujarnya. Saat ini, enam jabatan pimpinan tinggi pratama yang lowong sudah diajukan ke Badan Kepegawaian Negara.
Sore semakin larut. Cangkir-cangkir kopi di meja mulai kosong. Andi Poci tampaknya memahami satu hal, kritik pers di daerah tak selalu bisa diredam dengan rilis resmi atau hadangan ajudan di pintu. Kadang, pejabat cukup datang tanpa pengawalan, duduk di meja yang sama, dan membiarkan pertanyaan yang tidak nyaman mengambang di udara.
Namun, taktik Andi Poci menahan para kuli tinta di mejanya hari itu barangkali bukan sekadar urusan meredam keluhan internal birokrasi. Tepat saat diskusi mulai melambat, sebuah keriuhan lain pecah di seberang jalan, persis berhadapan dengan Hao Xiang Warkop.
Mantan calon presiden Ganjar Pranowo tiba-tiba muncul di Warkop Pojok. Mengenakan pakaian santai, Ganjar yang baru saja tiba dari Toraja didampingi sang istri, Siti Atikoh, serta dikawal ketat oleh jajaran fungsionaris PDI Perjuangan. Kehadiran magnet politik nasional di sudut jalan Palopo sore itu seketika memicu kasak-kusuk.
Namun, barikade obrolan, janji manis anggaran media, dan diplomasi cangkir kopi yang disodorkan Andi Poci di seberang jalan tampaknya cukup kokoh. Kontras yang sengaja diciptakan sang Pj Sekda sore itu berhasil mengikat perhatian sebagian besar pemburu berita tetap di kursinya, menjauhkan mereka dari godaan memburu status politik sang mantan capres. Andi Poci tampaknya tahu betul cara menjinakkan pers di daerahnya, mengurung mereka dengan segelas kopi panas, kesediaan mendengarkan keluhan, dan jika perlu, sebuah pengalihan perhatian yang rapi di seberang jalan. Apakah pendekatan ini bertahan lebih dari satu sore di warkop, masih harus dibuktikan. (MUBARAK DJABAL TIRA)

Posting Komentar untuk "Andi Poci, Kopi, dan Kritik yang Diseruput"