Misi Bintang 4 Argentina: Dansa Terakhir Lionel Messi dan Ambisi Back-to-Back Piala Dunia

8.189 Views

 

By: lukman hamarong
Piala Dunia 2026 kini tinggal menghitung hari. Di tengah gegap gempita persiapan 48 negara yang akan berlaga di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, ada satu narasi paling menyedot perhatian dunia, yaitu misi Timnas Argentina merengkuh “Bintang 4” (juara dunia 4 kali). 

Datang dengan status juara bertahan, skuat Argentina mengusung ambisi besar mempertahankan takhta sekaligus meraih gelar juara dunia dua kali secara konsekutif alias berturut-turut. Sebuah torehan langka yang terakhir kali berhasil dilakukan Brasil pada 1958 dan 1962.

Untuk mewujudkan mimpi besar tersebut, tim Albiceleste, julukan Argentina, sedang merancang kejutan bagi lawan-lawannya. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, memang tidak banyak melakukan perubahan signifikan dari skuat yang bermain di Piala Dunia 2022 di Qatar. 

Namun, masih bermainnya Lionel Messi di tim Argentina sebagai pusat gravitasi permainan akan menjadi senjata mematikan yang siap mengubur setiap lawan Argentina di Piala Dunia. Ia adalah tumpuan mewujudkan ambisi besar Argentina untuk back to back Juara Piala Dunia. 

Di usia 38 tahun, Messi siap menjalani Piala Dunia keenamnya. Turnamen ini dipastikan menjadi panggung dansa terakhir Messi di level internasional. Namun, berbeda dengan edisi di Qatar 4 tahun lalu yang penuh beban, Messi kini melangkah tanpa tekanan psikologis. 

Trofi Piala Dunia 2022 lalu yang telah menuntaskan dahaga historisnya menjadikannya sebagai pesepak bola paling paripurna sepanjang masa. Hal itu tidak terbantahkan. Meski begitu, gairah kompetitif sang kapten belum juga padam untuk terus bermain di level tertinggi.

Di bawah asuhan pelatih Lionel Scaloni, La Pulga, julukan Messi, menjelma menjadi kreator utama Argentina. Kehadirannya di lapangan bukan sekadar urusan taktis, melainkan magnet mental yang mendongkrak rasa percaya diri rekan-rekan setimnya untuk kembali menguasai dunia.

Kekuatan utama Argentina menjelang dimulainya Piala Dunia 2026 ini terletak pada harmoni dan stabilitas. Lionel Scaloni memilih untuk tidak melakukan perombakan masif pada fondasi timnya. Kerangka utama yang membawa mereka juara dunia di Qatar masih dipertahankan.

Sebut saja Emiliano Martinez yang masih betah berdiri di bawah mistar gawang sebagai tembok pertahanan yang kokoh. Dibu, sapaan akrab Martinez, merupakan sosok pahlawan mental tim. Ia dibentengi oleh bek tangguh, seperti Cristian Romero dan Lisandro Martinez.

Kekuatan dan kekokohan lini belakang Argentina diperkuat dengan dinamisnya lini tengah mereka yang kembali dilakoni dua gelandang pengangkut air bertenaga kuda, Rodrigo de Paul dan Enzo Fernandez, yang secara spartan mampu menjadi mesin penggerak yang krusial.

Rodrigo De Paul dikenal memiliki daya jelajah yang tinggi dengan gaya main yang tak kenal lelah. Sering kali menjadi orang pertama yang memutus serangan lawan, bahkan sebelum menyentuh sepertiga akhir lapangan Argentina, sekaligus sebagai “bodyguard” bagi Messi.

Jangan lupakan peran krusial Alexis Mac Allister yang jeli mengalirkan bola ke depan. Gelandang serang bertenaga kuda ini memiliki kekuatan yang bisa memanjakan lini serang Argentina yang dikomandoi Lionel Messi, bersama Julian Alvarez dan Lautaro Martinez.   

Duet Julian Alvarez dan Lautaro Martinez akan memberikan ancaman konstan lewat pergerakan vertikal dan penyelesaian akhir yang mematikan. Intinya, tim Argentina siap memberikan kejutan demi kejutan dengan level tingkat tinggi kepada lawan-lawannya nanti. 

Sebagai juara bertahan, Argentina seharusnya berada pada posisi paling depan untuk memenangi Piala Dunia 2026. Namun, sejumlah pengamat, pandit sepak bola dunia, dan media internasional, hanya menempatkan Argentina pada posisi keempat sebagai calon kuat juara.

Sebagai contoh Opta Supercomputer yang telah melakukan simulasi, menempatkan Spanyol di posisi pertama sebagai calon kuat juara dengan probabilitas juara 16,1%. Disusul Prancis di urutan kedua (13%), dan Inggris urutan ketiga (11,2%). Argentina sendiri di posisi keempat (10,4%).

Perjuangan epic memenangi sejumlah kejuaraan mayor semodel Copa America 2021, Piala Dunia 2022, Finalissima 2022, dan back to back Copa America 2024 adalah bukti bahwa Argentina kini menjelma sebagai tim yang memiliki kekuatan mental, dan kekompakan yang sudah teruji.

Pun kedalaman skuad yang merata di setiap lini menjadi modal paling berharga bagi Argentina untuk kembali mengangkat trofi Piala Dunia 2026. Kalau Copa America bisa back to back (2021 dan 2024), mengapa tidak untuk back to back Piala Dunia (2022 dan 2026).

Back to back atau juara berturut-turut di Piala Dunia, terakhir dilakukan Brasil di Piala Dunia 1962 di Chile. Sebelumnya, Brasil menjadi juara Piala Dunia 1958 di Swedia. Akankah Argentina mampu melakukan apa yang dilakukan Brasil. Setelah Brasil, belum ada yang bisa melakukannya.

Kini, Argentina siap menjadi tim kedua yang bisa back to back, sekaligus menyematkan bintang keempat di jersey mereka. Mereka datang sebagai sebuah kesatuan yang tenang, matang, dan tahu persis cara memenangkan turnamen. 

Semoga Messi memberikan keajaiban terakhirnya sebelum benar-benar pensiun sebagai pemain terbaik sepanjang masa yang dimiliki oleh dunia. Sekaligus membuka jalur menuju penyematan “Bintang 4” di jersey biru-putih. Impian itu kini terbentang nyata di depan mata. (****) 

Tantangan pertama Argentina dalam mempertahankan gelar akan dimulai di Grup J. Di atas kertas, Argentina diunggulkan, namun Scaloni dipastikan tidak akan meremehkan siapa pun di turnamen sebesar Piala Dunia.

Pertandingan Tanggal Waktu (WIB) Stadion
Argentina vs Aljazair Selasa, 16 Juni 2026 08:00 WIB TBA
Argentina vs Austria Selasa, 23 Juni 2026 10:00 WIB TBA
Argentina vs Yordania Minggu, 28 Juni 2026 09:00 WIB TBA
Catatan: Jadwal kickoff telah disesuaikan ke Waktu Indonesia Barat (WIB).

Posting Komentar untuk "Misi Bintang 4 Argentina: Dansa Terakhir Lionel Messi dan Ambisi Back-to-Back Piala Dunia"