Suara dari Sudut Meja: Merawat Warisan Juang Pemuda Indonesia

8.189 Views

OLEH: Lukman Hamarong (Sekretaris Umum DPD BKPRMI Luwu Utara) 
Tanggal 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda bergema, menyatukan tekad Nusantara dalam satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Ikrar ini menjadi fondasi kokoh yang sangat monumental. 

Hanya 17 tahun berselang, tepatnya 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan dikumandangkan oleh dua pemuda cerdas nan hebat yang juga Bapak Bangsa, Soekarno dan Mohammad Hatta. 

Tonggak sejarah ini membuktikan bahwa persatuan pemuda adalah kekuatan utama yang mampu membebaskan Ibu Pertiwi dari belenggu sadis imperialisme dan kolonialisme masa lampau. 

98 tahun berlalu, sumpah pemuda telah dikumandangkan dengan penuh semangat heroisme, dan itu sekaligus menandai babak baru perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan. 

Di balik runtuhnya benteng kolonialisme, siapa yang memegang peran paling besar? Jawabannya ada pada pemuda pemberani yang mempertaruhkan harta dan nyawa demi kemerdekaan. 

Tokoh-tokoh, seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, dan jutaan pemuda tanpa nama adalah pahlawan sejati yang mewariskan kemerdekaan yang hari ini kita teguk dengan penuh nikmat.

Sumpah pemuda jangan hanya diperingati secara seremonial saja, tetapi bagaimana semangat pemuda masa lampau dapat menginspirasi pemuda masa kini untuk melanjutkan perjuangan. 

Bukan lagi perjuangan mengangkat senjata, tetapi perjuangan dalam mengambil peran krusial untuk menghadirkan karya, inovasi, dan kontribusi masif untuk membangun daerah dan negeri.

Dari sini, di sudut meja ini, tempat saya menumpahkan lukisan narasi epik yang penuh nostalgia, untuk mengenang perjuangan para pemuda masa lampau yang masif dan sangat kontributif. 

Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia. Tema ini sengaja dibuat guna memperkokoh serta memperkuat kembali komitmen persatuan dan kesatuan yang dahulu sangat disegani. 

Cerita epik masa lalu harus menjadi tongkat estafet dari generasi ke generasi. Kisah ini akan tetap menjadi bagian perjalanan yang takkan pernah berhenti sampai bumi ini berhenti berputar.

Oleh karena itu, bangsa ini butuh pemimpin muda yang energik. Tegas, tetapi tidak brutal. Keras, tetapi tidak kasar. Berani, tetapi tidak otoritarian. Berjiwa patriot, dan berhati tulus dan mulia. 

Membungkuk pada nasib rakyat. Membusungkan dada melawan kaum penjajah model masa kini. Membangun kepemimpinan yang membersamai, dan mengajak rakyat untuk taubatan nasuha. 

Tiada manusia yang luput dari segala salah, karena kita memang wadah dari ketidaksempurnaan. Tugas kita sekarang adalah saling menopang, saling menguatkan, serta saling mengingatkan.

Bukan malah saling menjatuhkan untuk menahbiskan diri sebagai pemilik kebenaran. Kendati usia ini tak lagi muda, dari sudut meja ini kusuarakan lantang: JAYALAH PEMUDA INDONESIA….!" (LHR)

Posting Komentar untuk "Suara dari Sudut Meja: Merawat Warisan Juang Pemuda Indonesia"