![]() |
| Disporapar Lutra rakor bersama KPH Wilayah Kalaena |
MASAMBA- Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Luwu Utara (Lutra) melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) terus bergerak cepat dalam menggali dan mengembangkan potensi pariwisata daerah.
Langkah strategis ini diperkuat dengan digelarnya rapat koordinasi (rakor) bersama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) wilayah Kalaena, Selasa (19/5/2026), di Ruang Rapat Kantor Bidang-UPT Pariwisata.
Rapat koordinasi strategis ini berfokus penuh pada rencana pengembangan konsep ekowisata atau wisata hutan berkelanjutan (sustainable forest tourism) yang lokasinya terletak di Desa Uraso, Kecamatan Mappedeceng.
Kepala Disporapar, Saleh, yang memimpin langsung rakor tersebut menyampaikan bahwa Desa Uraso memiliki kekayaan alam dan bentang hutan yang sangat potensial untuk pengembangan ekowisata. Namun, tetap harus menjaga kelestarian lingkungannya.
Pihaknya ingin mengembangkan wisata hutan yang tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga menjaga paru-paru bumi. Konsep ekowisata ini dirancang dengan tujuan agar roda ekonomi masyarakat terus bergerak tanpa harus merusak ekosistem hutan.
“Agar pengelolaan hutan bisa berjalan secara berkesinambungan dan bebas dari praktik merusak seperti penebangan liar (illegal logging), maka kita memerlukan sebuah pendekatan yang betul-betul terstruktur, berbasis data, dan melibatkan masyarakat.
Sementara KPH Kalaena menyambut baik dan siap mendukung penuh, terutama terkait regulasi pemanfaatan kawasan hutan dan pendampingan teknis di lapangan. Sinergi ini dinilai penting agar rencana pengembangan ekowisata berjalan selaras dengan aturan kehutanan yang berlaku.
Kepala KPH Kalaena, Junita Libertin, yang turut hadir menegaskan bahwa berdasarkan PP Nomor 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan bahwa pemerintah membuka ruang bagi pemanfaatan jasa lingkungan, termasuk untuk kegiatan pariwisata alam.
“Saya mau bicara sisi hukumnya dulu, bahwa PP Nomor 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan mengizinkan untuk pemanfaatan jasa lingkungan bagi wisatawan. Itu dimungkinkan di hutan produksi dan hutan lindung,” beber Junita Libertin.
Pernyataan tersebut tentunya menjadi angin segar bagi pemda untuk merancang pengembangan ekowisata, khususnya di Desa Uraso, yang menjadi wilayah KPH Kalaena. Sehingga dalam rapat tersebut disepakati beberapa poin krusial yang menjadi fondasi utara ekowisata.
Beberapa di antaranya adalah memastikan infrastruktur yang akan dibangun hanya menggunakan zona pemanfaatan, sehingga fungsi hutan lindung tetap terjaga. Termasuk mengemas ekowisata dengan narasi-narasi yang edukatif, utamanya yang terkait dengan lingkungan.
Selain KPH Kalaena, Disporapar juga melibatkan seorang penggiat ekowisata, sekaligus pemandu berpengalaman yang lama berkecimpung dalam industri pengembangan ekowisata, yaitu Budi. Ia siap membantu pemda menjajaki rencana pengembangan wisata hutan berkelanjutan.
Menurut Budi, hutan Luwu Utara mempunyai “daya magis” tersendiri yang tak kalah dari daerah lain. Kata dia, potensi wisata hutan Luwu Utara memiliki nilai lebih tinggi. “Kalau saya bandingkan daerah lain, hutan kita lebih bernilai untuk menarik wisatawan ke Luwu Utara,” ucapnya.
Dengan adanya kolaborasi ini, Luwu Utara diharapkan mampu bertransformasi menjadi salah satu destinasi ekowisata unggulan di Indonesia, sekaligus menjadi model percontohan di mana alam yang lestari dapat berdampingan dengan kesejahteraan masyarakat. (LHR)

Posting Komentar untuk "Disporapar Lutra Gandeng KPH Kalaena Kembangkan Ekowisata Desa Uraso"