OLEH: Lukman Hamarong
Ada pemandangan yang sarat akan makna dan daya pikat luar biasa tatkala Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, hadir dalam acara pengukuhan pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Kabupaten Luwu Utara 2026–2031.
Tak sekadar hadir sebagai pimpinan daerah, Bupati Andi Rahim memilih untuk mengenakan batik khas Perhiptani. Keputusan kecil namun penuh simbolik ini seketika mengubah atmosfer ruangan. Dengan batik yang membungkus tubuhnya, sekat-sekat formalitas birokrasi seolah jadi lebur.
Andi Rahim tidak tampil sebagai sosok yang acapkali berdiri di atas panggung dengan stelan baju Bupati, melainkan ia memilih berbaur, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, bersama para pengurus yang notabene merupakan para pejuang di lapangan, penyuluh pertanian itu sendiri.
Bagi sebagian orang, mungkin mengenakan pakaian dinas resmi adalah pilihan paling aman untuk menunjukkan elegansi dan otoritas jabatan. Namun, apa yang ditunjukkan Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, jauh melampaui sekat-sekat elitis dari sebuah penampilan visual semata.
Mengenakan batik Perhiptani adalah sebuah pernyataan sikap yang elegan. Ini merupakan pilihan sadar Bupati untuk merangkul dan merasakan denyut nadi perjuangan para penyuluh pertanian. Pakaian seragam ini berfungsi sebagai simbol kebersamaan, kesetaraan, dan kekompakan.
Melalui pilihan batik Perhiptani tersebut, Bupati seolah ingin mengirim pesan kuat kepada publik, bahwa di atas fondasi keseragaman, akan lahir kebersamaan, dan dari kebersamaan itulah, energi kolektif akan tumbuh untuk membesarkan perhiptani menjadi rumah bagi penyuluh pertanian.
Pertanian bukan lagi sekadar sektor penunjang ekonomi, ia adalah urat nadi kehidupan sebagian besar masyarakat. Di balik setiap bulir padi yang menguning, di balik setiap komoditas unggulan lainnya yang merajai pasar, terdapat keringat dan dedikasi senyap dari para penyuluh pertanian.
Mereka ini adalah jembatan antara kebijakan pemerintah dan realitas di lapangan. Mereka inilah yang selalu mendampingi para petani kita di lapangan, mengedukasinya melalui teknik pertanian modern, mekanisasi alat pertanian, hingga menjadi motivator ulung tatkala musim panen tiba.
Dengan hadirnya kepengurusan DPD Perhiptani Luwu Utara 2026–2031, harapan baru itu kembali disemai. Pelantikan yang dilaksanakaan belum lama ini bukan lagi sekadar seremoni administratif, melainkan sebagai momentum konsolidasi kekuatan intelektual dan moral dari para penyuluh.
Ketika seorang bupati turun tangan langsung mengenakan atribut yang sama, serta menunjukkan dukungan total secara simbolik maupun emosional, hal ini tentu memberikan suntikan moral luar biasa bagi penyuluh. Ini merupakan bentuk pengakuan bahwa keringat penyuluh itu dihargai dan diperhitungkan dalam peta pembangunan daerah.
Langkah simpatik melalui upaya simbolisme seragam yang ditunjukkan Bupati Andi Rahim tentu memberikan pelajaran berharga mengenai kepemimpinan yang humanis, yaitu kepemimpinan yang tidak berjarak dengan masyarakat, termasuk dengan mitra kerjanya di sektor pertanian.
Kombinasi antara komitmen pemda dan militansi penyuluh pertanian di bawah panji Perhiptani diyakini menjadi motor penggerak yang tangguh. Ketika pemda dan penyuluh berjalan beriringan dengan visi yang selaras, maka kesejahteraan petani dan kemandirian pangan bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan keniscayaan yang segera terwujud.
Pada akhirnya, batik Perhiptani yang dikenakan oleh Bupati Andi Rahim bukan lagi sekadar kain bermotif penuh makna, melainkan sebuah kain pengikat jiwa, saksi bisu dari komitmen bersama untuk menghijaukan ladang harapan dan memajukan kesejahteraan petani di Luwu Utara. (LHR)

Posting Komentar untuk "Simbol di Balik Batik Perhiptani yang Dikenakan Bupati: Menyatu dengan Jiwa Penyuluh Pertanian"