Dirgahayu RRI: Dari Radio Transistor Ibu Menjadi Gelombang Digital

8.189 Views

OLEH: Lukman Hamarong
Gelombang radio selalu punya cara tersendiri untuk merawat ingatan kita. Mengenang Hari Radio Nasional, sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Radio Republik Indonesia (RRI) yang jatuh pada Jumat, 11 September 2026, ingatan saya langsung melompat jauh ke masa lalu.

Ibu saya yang dulunya adalah sosok perempuan yang lebih banyak diamnya ketimbang ceritanya, ternyata menyimpan catatan sejarah yang unik sebagai mantan penyiar Radio Pemerintah Daerah (Rapemda) Kabupaten Luwu sebelum beliau menjadi PNS Departemen Penerangan.

Dulu, sempat dibuat tak habis pikir oleh beliau. Bagaimana mungkin seorang ibu yang karakternya pendiam, ternyata memiliki kemampuan "bercuap-cuap" andal di balik mikrofon studio? Pantas saja jika di rumah kami dulu selalu terserak radio transistor dalam berbagai ukuran. 

Sayangnya, takdir belum mempertemukan saya dengan masa kejayaannya sebagai penyiar, sebab 
masa-masa itu ia lewati jauh sebelum menikah dan memiliki anak. Kendati demikian, aroma dunia penyiaran seolah sudah mendarah daging dan menjadi latar belakang masa kecil saya.

Sebagai anak dari seorang mantan penyiar radio, rasanya ada ikatan emosional dan tanggung jawab tersendiri untuk turut merayakan denyut nadi dunia penyiaran tanah air. Terlebih lagi, RRI bukan sekadar lembaga penyiaran biasa. RRI adalah saksi hidup perjalanan bangsa. 

RRI tentu tidak bisa dilepaskan dari lembaran sejarah masa kemerdekaan Indonesia, sebab dari bilik-bilik siarannya-lah gelombang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pertama kali digaungkan dan didengar oleh ratusan juta rakyat dari berbagai penjuru Nusantara.

Di usianya yang ke-81, RRI mampu membuktikan ketangguhannya. Di tengah gempuran disrupsi informasi dan teknologi, radio tertua di Indonesia ini tidak pernah tenggelam. Ia terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman, dan senantiasa hadir dalam genggaman melalui platform digital tanpa kehilangan jati diri historisnya.

Tahun ini, RRI mengusung tema “Suara Indonesia, Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Tema ini terasa sangat relevan dengan kondisi kekinian, yang menegaskan bahwa peran strategis radio pemersatu bangsa ini dalam mengawal kedaulatan informasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Dirgahayu Radio Republik Indonesia! Semoga konsisten menyajikan informasi yang mencerahkan, mendidik, dan tetap menjadi suara yang dirindukan kehadirannya, seperti halnya radio transistor peninggalan masa lalu yang selalu menghidupkan kenangan suara ibu saya di Tana Luwu. (LHR)

Posting Komentar untuk "Dirgahayu RRI: Dari Radio Transistor Ibu Menjadi Gelombang Digital"