OPINI! Luwu Raya Ingin Jaya atau Sebatas Gaya?

8.189 Views

Oleh: Kaharuddin (Qahar Raydin)
PERJUANGAN pembentukan DOB Provinsi Luwu Raya sejatinya lahir dari rasa ketimpangan panjang. Ia bukan sekadar agenda administratif, melainkan harapan kolektif masyarakat agar wilayah yang kaya sumber daya itu memperoleh perhatian, keadilan pembangunan, dan kemandirian politik. Namun pertanyaan publik kini mulai terdengar semakin nyaring: apakah Luwu Raya benar-benar diperjuangkan untuk “Luwu Jaya”, atau hanya menjadi panggung “Luwu Gaya”?

Direkrutnya sejumlah elit politik dari kawasan Luwu Raya ke dalam lingkar kekuasaan tertentu memang dapat dibaca dalam dua sisi. Di satu sisi, itu dianggap sebagai peluang memperkuat akses perjuangan di pusat kekuasaan. Tetapi di sisi lain, publik juga berhak curiga: jangan-jangan gerakan besar ini perlahan sedang dilemahkan melalui politik akomodasi. Ketika elit sudah merasa nyaman dalam posisi dan jabatan, maka suara perjuangan sering kali berubah pelan-pelan menjadi sekadar formalitas.

Sejarah politik di negeri ini berkali-kali menunjukkan bahwa gerakan rakyat paling mudah dilumpuhkan bukan dengan kekerasan, melainkan dengan “pelukan kekuasaan”. Tokoh yang dulu lantang di jalanan bisa mendadak senyap setelah masuk dalam barisan tertentu. Aspirasi yang dulu menyala perlahan diparkir atas nama stabilitas, kompromi, dan kepentingan politik jangka pendek.

Di titik inilah masyarakat harus waspada. Jangan sampai perjuangan DOB Provinsi Luwu Raya hanya dipakai sebagai alat tawar-menawar politik saat momentum tertentu, lalu dilupakan setelah elit mendapatkan ruang dan posisi. Jika itu yang terjadi, maka benar adanya bahwa yang diperjuangkan bukan “Luwu Jaya”, melainkan hanya “Luwu Gaya” — ramai di slogan, lemah dalam keberanian.

Karena itu, gelombang aksi unjuk rasa yang belakangan muncul harus dipahami sebagai alarm sosial. Itu tanda bahwa rakyat tidak ingin perjuangan ini ditidurkan oleh kepentingan segelintir orang. Gerakan rakyat tidak boleh dinina-bobokan dengan janji, jabatan, atau manuver politik sesaat. Sebab DOB bukan hadiah elit, melainkan hak masyarakat yang diperjuangkan melalui konsistensi dan tekanan publik yang berkelanjutan.

Bila elit Luwu Raya benar-benar berpihak pada cita-cita daerah otonomi baru, maka keberadaan mereka di lingkar kekuasaan seharusnya memperkeras perjuangan, bukan justru membuat gerakan melemah. Rakyat tentu dapat membedakan mana tokoh yang tetap teguh memperjuangkan aspirasi daerah, dan mana yang hanya menjadikan isu pemekaran sebagai kendaraan menuju kursi kekuasaan.

Luwu Raya hari ini sedang diuji: antara cita-cita dan citra, antara perjuangan dan kenyamanan kekuasaan. Dan sejarah kelak akan mencatat, siapa yang sungguh memperjuangkan pembentukan provinsi Luwu Raya untuk “Jaya”, dan siapa yang hanya sibuk mempertontonkan Luwu Raya hanyalah “Gaya”. (**) 

*) Penulis Adalah Pemerhati Kebijakan Publik

Posting Komentar untuk "OPINI! Luwu Raya Ingin Jaya atau Sebatas Gaya?"