![]() |
| Kadis Pendidikan Sulteng, H Firmanza DP. |
Catatan Mubarak Djabal Tira
Hari ini, 31 Desember 2025, menjadi momen bersejarah bagi Drs. H. Firmanza DP, SH, M.Si, birokrat senior asal Tolitoli, Sulawesi Tengah. Dilantik oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Firmanza resmi "pulang kampung" setelah pengabdian panjang di Sulawesi Selatan, khususnya di Kota Palopo.
Pelantikan ini bagian dari mutasi besar-besaran menjelang tahun baru, menandai akhir babak kepemimpinan Firmanza di Palopo. Sebagai Penjabat Wali Kota sejak September 2024 hingga Agustus 2025, ia memimpin masa transisi yang penuh dinamika, termasuk Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Palopo. Selama periode itu, Firmanza menjaga netralitas dan stabilitas pemerintahan, memastikan proses demokrasi berjalan lancar hingga pelantikan Wali Kota definitif, Hj. Naili Trisal, dan Wakil Wali Kota, Dr. Akhmad Syarifuddin.
Hubungan kerja antara Firmanza dan Naili Trisal selama masa transisi patut dicatat sebagai contoh kolaborasi yang harmonis. Saat Naili Trisal dilantik pada Agustus 2025, Firmanza kembali ke posisi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palopo, mendampingi pemerintahan baru dalam berbagai agenda, seperti pengarahan kebijakan "Palopo Baru", penerimaan penghargaan inovasi daerah, hingga penanganan isu keuangan lokal.
Saat akhir masa jabatan, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman memberikan piagam penghargaan atas karya bakti dan dedikasi Firmanza selama memimpin Palopo.
Naili Trisal sendiri pernah menyampaikan ucapan terima kasih atas dedikasi Firmanza selama menjabat Pj Wali Kota, yang memungkinkan proses pemilihan hingga PSU berlangsung aman dan tertib.
Namun, dinamika birokrasi tak lepas dari isu transisi. Beberapa waktu lalu, sempat beredar kabar bahwa posisi Sekda Firmanza diinginkan diganti oleh figur yang lebih dekat dengan Naili Trisal, seiring regenerasi di lingkup Pemkot Palopo. Isu tersebut wajar dalam konteks politik lokal pasca-pilkada, di mana wali kota baru sering kali membawa tim kepercayaan untuk mendukung visi pembangunan. Meski demikian, Firmanza tetap menjalankan tugas dengan profesional hingga akhirnya permohonan pindah tugas ke daerah asal disetujui, membuka jalan bagi regenerasi di Palopo sekaligus kontribusi baru di Sulteng.
Kembalinya Firmanza ke Sulawesi Tengah bukan sekadar mutasi rutin, melainkan panggilan untuk berkontribusi langsung bagi tanah kelahiran. Sektor pendidikan yang kini diembannya krusial, mengingat tantangan Sulteng seperti disparitas akses di wilayah terpencil dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan pengalaman matang dari lurah hingga pj wali kota, Firmanza diharapkan membawa pendekatan pragmatis yang telah terbukti, seperti fokus pada perlindungan sosial dan iklim investasi di Palopo.
Bagi Palopo, kepergian Firmanza meninggalkan warisan stabilitas transisi yang patut dilanjutkan. Kota ini kini dipimpin Naili Trisal dengan visi responsif terhadap masyarakat, dan kekosongan Sekda diharapkan segera terisi untuk menjaga kontinuitas program.
Secara luas, kisah ini mencerminkan esensi mobilitas ASN: talenta didistribusikan merata demi pembangunan nasional. Firmanza, dengan integritas terjaga, menjadi teladan abdi negara yang tak terikat wilayah. Selamat bertugas di kampung halaman, Pak Firmanza semoga angin segar pendidikan Sulteng membawa manfaat luas bagi generasi mendatang, sambil meninggalkan jejak positif di Palopo yang pernah Anda jaga dengan dedikasi tinggi. (****)

Posting Komentar untuk "Pulang Kampung Seorang Birokrat: Firmanza DP dan Panggilan Tanah Kelahiran"