10 Desa Dikukuhkan, PT MDA Dampingi 6 Desa Tangguh Bencana di Luwu

8.189 Views

Penetapan 10 desa yang masuk dalam program Destana di Luwu. 
LUWU- Terdapat 10 desa resmi ditetapkan Bupati Luwu, H Patahudding, sebagai Desa Tangguh Bencana, 6 desa di antaranya didampingi PT Masmindo Dwi Area (MDA) dan PUSPENA Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) melalui program Destana hasil kolaborasi dengan BPBD Kabupaten Luwu.

Pencanangan 10 Desa Tangguh Bencana digelar Bupati Luwu, Minggu (20/9/2026), di Desa Kadundung, Kecamatan Latimojong. Adapun 6 desa yang menjadi binaan Destana, yakni Desa Ulusalu, Tolajuk, Boneposi, Rante Balla, dan Kadundung, Kecamatan Latimojong, dan Desa Bonelemo di Kecamatan Bajo Barat.

Sementara, 4 desa lainnya masing-masing Desa Karang-karangan, Lengkong, dan Padang Kaluan di Kecamatan Bua, serta Desa Bosso Timur di Kecamatan Walenrang Utara. 

Pendampingan itu merupakan bagian dari upaya bersama mendukung program Pemkab Luwu dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi risiko bencana. Program ini sekaligus menjadi implementasi Jaga Keselamatan Desa, salah satu pilar Program Jaga Desa MDA yang lahir dari aspirasi masyarakat melalui FORDES MATAPPA.

Dalam pelaksanaannya, BPBD Luwu berperan sebagai leading sektor, 
didukung MDA dan PUSPENA UNCP dalam pendampingan serta penguatan kapasitas 
masyarakat. Kolaborasi ini juga menghadirkan WebGIS Destana, sistem informasi geospasial berbasis web yang memuat informasi kejadian, potensi, dan titik rawan bencana untuk mendukung mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.

Pengukuhan Destana juga dirangkaikan dengan simulasi penanggulangan bencana 
yang melibatkan BPBD Kabupaten Luwu, anggota Destana, Palang Merah Indonesia 
(PMI), serta Emergency Response Team (ERT) MDA.

Bupati Luwu H Patahudding mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam 
memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.

“Alhamdulillah, dengan hadirnya MDA dan Universitas Cokroaminoto untuk bekerja 
sama dengan Pemerintah Kabupaten Luwu, kita menghasilkan beberapa program 
yang bisa memitigasi bencana yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Mudahmudahan bencana tidak terjadi lagi,” ujar Patahudding.

Patahudding menambahkan, pengalaman menghadapi bencana pada 2024 menjadi 
pelajaran penting bagi masyarakat, khususnya di wilayah Latimojong, untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Ia berharap Destana dapat terus diperluas, baik di 
wilayah lingkar tambang maupun wilayah lainnya di Luwu.

Direktur Human Capital and Corporate Service MDA Muhammad Suhada yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan, pendampingan Destana merupakan 
bagian dari komitmen MDA dalam mendukung upaya Pemkab Luwu 
melalui BPBD memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi risiko bencana.

“Ketangguhan menghadapi bencana harus dibangun sebelum bencana terjadi. Karena itu, yang kami dorong bukan hanya kesiapan menghadapi kondisi darurat, tetapi juga pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali serta mengelola risiko di wilayahnya. Melalui kolaborasi dengan BPBD, PUSPENA UNCP, FORDES MATAPPA dan masyarakat desa, kami berharap kapasitas yang telah dibangun dapat terus diperkuat,” ujar Suhada.

Ketua PUSPENA UNCP Dr Ichwan Muis mengatakan, pendampingan Destana diarahkan agar masyarakat semakin mampu memahami risiko dan membangun kesiapsiagaan secara mandiri.

“Masyarakat didorong untuk mampu mengenali potensi dan risiko bencana di 
wilayahnya, memahami langkah mitigasi, serta memiliki kapasitas untuk merespons 
kondisi darurat. WebGIS Destana juga menjadi bagian dari upaya menyediakan 
informasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan pemerintah desa untuk 
mendukung kesiapsiagaan berbasis kondisi wilayah,” ujar Ichwan.

Pengukuhan enam desa yang telah mendapat pendampingan tersebut menjadi 
bagian dari upaya bersama Pemkab Luwu, BPBD, MDA, PUSPENA UNCP dan masyarakat dalam membangun ketangguhan desa secara berkelanjutan. (RILIS/TOM)

Posting Komentar untuk "10 Desa Dikukuhkan, PT MDA Dampingi 6 Desa Tangguh Bencana di Luwu"