OLEH: Lukman Hamarong
Babak perempat final Piala Dunia 2026 menyajikan drama yang menguras emosi. Argentina harus memeras keringat hingga menit-menit terakhir paruh kedua babak perpanjangan waktu untuk menundukkan perlawanan spartan Swiss.
Gol Alexis MacAllister lahir dari kreasi matang Lionel Messi, kemudian digandakan Julian Alvarez dan Lautaro Martinez di paruh kedua extra time, menjadi bukti betapa Argentina harus berjuang ekstra keras demi menyegel tiket semifinal.
Namun, seperti biasa, panggung megah sepak bola ini tidak pernah sepi dari riuh rendah di luar lapangan. Tak lama setelah peluit panjang berbunyi, sebuah narasi usang kembali mencuat: wasit memenangkan Argentina. FIFA setting Argentina juara.
Sebuah pernyataan kurang bijak di tengah gema fairplay olahraga digaungkan, yang kemudian menggelitik batin saya. Ini sangat menyedihkan jika kita menelan mentah-mentah pernyataan tak berdasar tersebut. Hanya karena kebencian, akal sehat tergadaikan.
Sorotan utama yang memicu polemik ini adalah kartu merah yang diterima striker Swiss, Breel Embolo. Banyak pihak yang telanjur dikuasai sentimen negatif langsung menuding bahwa wasit yang memimpin laga tersebut memihak Argentina.
Padahal, jika kita menengok kronologi kejadian dengan kepala dingin, yang terjadi justru adalah kemenangan penegakan aturan melalui teknologi VAR. Awalnya, wasit memberi kartu kuning kepada Leandro Paredes, setelah terjadi perebutan bola yang sengit dengan Embolo.
Kemudian VAR meninjau ulang visual kejadian secara objektif dan mendetail. Hasil rekaman dari VAR menunjukkan dengan sangat jelas bahwa tak ada pelanggaran keras dari Paredes. Sebaliknya, Embolo sengaja melakukan diving untuk mengelabui perangkat pertandingan.
Nah, Embolo harus menerima konsekuensinya. Berdasarkan regulasi FIFA, tindakan diving wajib diganjar kartu kuning. Mengingat Embolo sebelumnya sudah mengantongi satu kartu kuning, maka wasit tidak memiliki pilihan lain selain mengeluarkan kartu merah.
Swiss yang harus bermain dengan 10 pemain akhirnya keteteran menahan intensitas tekanan serangan dari Argentina. Apakah ini hadiah? Sama sekali tidak. Ini adalah konsekuensi logis dari pelanggaran regulasi yang berbuah kerugian bagi tim itu sendiri.
Namun, sangat disayangkan melihat ruang publik belakangan ini yang begitu mudah dipenuhi stigma tak berdasar. Bermodalkan kebencian terhadap Argentina atau sosok megabintang seperti Messi, sekelompok oknum dengan mudahnya merajut narasi fiktif.
Mereka mem-framing bahwa kemenangan Argentina adalah hasil settingan FIFA, yang kemudian kembali digoreng hangat-hangat di platform media sosial. Ironisnya, publik yang awam dan tidak menonton pertandingan secara utuh sering kali menjadi korban.
Mereka termakan isu yang diproduksi dari ruang ganti kebencian, bukan dari fakta di atas rumput hijau. Saya sangat prihatin melihat pencinta sepak bola yang membiarkan indahnya permainan, dan kerja keras pemain dirusak oleh kacamata kuda kebencian.
Sepak bola harusnya mendidik kita untuk melihat sportivitas, strategi, dan drama taktik secara objektif, bukan melatih kita menjadi komentator teori konspirasi yang dangkal. Dan akhirnya, saya hanya ingin mengatakan: Nikmati prosesnya, dan terima hasilnya dengan bijak.
Argentina lolos ke semifinal karena mampu memanfaatkan momentum, menjaga stamina, dan memiliki mentalitas juara, serta kedalaman skuad yang siap menghukum lawan. Sementara Swiss tersingkir karena kesalahan fatal yang berujung kerugian jumlah pemain.
Mari kita kembalikan sepak bola ke khittahnya sebagai hiburan yang menyatukan, mendidik, dan menguras emosi secara sehat. Menonton sepak bola dengan hati penuh kebencian hanya akan membuat kita buta terhadap keindahan seni lapangan hijau itu sendiri.
Akhirnya, saya hanya ingin mengucapkan selamat buat Argentina, dan hormat untuk perjuangan yang begitu gigih dari Swiss. Sama seperti Mesir yang juga harus tersingkir secara terhormat, Swiss juga patut mendapat apresiasi karena kalah dengan cara ksatria. (LHR)

Posting Komentar untuk "Wasit Portugal “Menangkan” Argentina atas Swiss dan Kedewasaan Kita dalam Menikmati Sepak Bola"