Oleh: Lukman Hamarong
Ada momen-momen dalam sepak bola di mana takdir tidak datang terlalu cepat, melainkan tepat pada waktunya. Bagi striker nomor 9 Argentina, Julian Alvarez, momen tersebut bernama babak perempat final Piala Dunia 2026.
Setelah sepanjang babak penyisihan grup harus bersabar di bangku Cadangan, dan menyaksikan kompatriotnya, Lautaro Martinez, mendapatkan kepercayaan penuh dari pelatih Lionel Scaloni, kesempatan emas itu akhirnya datang.
Alvarez dipasang sebagai starter pada fase gugur. Meski belum sempat berkontribusi berupa gol yang menjadi tugasnya di laga kontra Cape Verde dan Mesir, tetapi sebuah mahakarya sukses ia torehkan saat Argentina melawan Swiss di perempat final.
Laga kontra Swiss bukanlah perkara mudah bagi Argentina. Swiss memberikan perlawanan sengit dan disiplin yang membuat pasukan Scaloni frustrasi. Meski Argentina unggul cepat pada menit ke-11 melalui Alexis MacAllister, namun Swiss terus memberikan perlawanan.
Ketegangan memuncak saat Swiss berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melalui Ndoye. Skor ini terkunci hingga waktu normal selesai. Argentina pun butuh keajaiban untuk meruntuhkan tembok pertahanan Swiss yang begitu kokoh dan rapat.
Terlebih setelah salah satu penyerangnya bernama Embolo mendapat akumulasi dua kartu kuning yang berujung kartu merah. Drama pengusiran pun terjadi yang membuat Akanji cs meradang. Argentina pun unggul jumlah pemain di atas lapangan.
Namun, drama belum usai. Argentina harus dipaksa menunggu hingga paruh kedua babak extra time untuk benar-benar mengunci kemenangan. Di sinilah Alvarez beraksi. Di paruh kedua extra time, Alvarez sukses mencetak gol pertamanya di Piala Dunia 2026.
Mencetak gol perdana di turnamen sebesar Piala Dunia tentu selalu terasa spesial bagi Alvarez. Namun, mencetak gol melalui proses yang indah di saat-saat paling krusial, tentu meninggalkan kesan tersendiri bagi pemain berjuluk “Spiderman” tersebut.
Gol indah Alvarez ke gawang Swiss langsung meruntuhkan moral. Gol perdana Alvarez di Piala Dunia 2026 ini bukan sekadar angka di papan skor, melainkan sebuah pernyataan bahwa dirinya siap kapan pun jika pelatih memberinya menit bermain yang lebih lama.
Gol indahnya tidak hanya memecah kebuntuan yang mencekam, tetapi juga membakar semangat tim. Menjelang peluit panjang paruh kedua, Lautaro Martinez menyempurnakan pesta Argentina dengan gol ketiga, menutup laga dengan kemenangan meyakinkan 3-1.
Julian Alvarez sekali lagi membuktikan dirinya bukan sekadar ban serep di Piala Dunia, tetapi ia berjuang untuk mendapatkan menit bermain agar kemampuan terbaiknya dapat berkontribusi di sisa laga Argentina menuju penahbisan juara back to back Piala Dunia.
Alvares adalah berlian yang siap bersinar. Namun, keputusan tetap ada pada sang pelatih untuk merotasi lini depan Argentina. Dan saat diberi kepercayaan, Alvarez mampu memberikan dimensi serangan yang betul-betul berbeda yang membuat Messi nyaman di depan.
Kini, Alvarez sudah “pecah telur” dan Lautaro tetap tajam dengan dua golnya sejauh ini. Sehingga Scaloni memiliki kemewahan lini depan yang menakutkan bagi Inggris, lawan Argentina di babak semifinal. Argentina masih melangkah gagah, dan mimpi back to back masih terjaga. (LHR)

Posting Komentar untuk "Panggung Epik Julian Alvarez: Gol Indah Perdana di PD 2026 Bawa Argentina ke Semifinal"