OLEH: LUKMAN HAMARONG
Saya hanya berbaring di ranjang sambil memegang handphone, scroll naik turun, membaca setiap postingan yang wara wiri di berbagai platform media sosial. Aktivitas malam tadi hanya sekadar menunggu laga Argentina vs Mesir di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026.
Tetiba saya tertidur. Untungnya, saya terbangun saat laga Argentina vs Mesir sudah berlangsung kurang lebih 30 menit di babak pertama. Namun, ada pemandangan yang membuat saya terdiam beberapa jenak. Saya mulai gelisah melihat situasi di atas lapangan hijau.
Nampak sangat jelas angka digital pada papan skor itu seolah menjelma menjadi algojo yang siap memenggal asa. Papan skor berkedip kaku. Skor 0-1 untuk keunggulan Mesir di babak pertama. Detak jantung makin kencang saat Mesir kembali menambah keunggulan.
Untungnya, gol Mesir dianulir setelah wasit melihat VAR. Di mana sebelum terjadinya gol, pemain Mesir melakukan pelanggaran terhadap Lisandro Martinez. Bajunya ditarik, kakinya diinjak, yang menyebabkan Licha, sapaan akrab Lisandro Martinez, akhirnya terjatuh.
Dada kembali terasa sesak saat Mesir lagi-lagi menambah keunggulan menjadi 0-2. Gol Mesir ini sah, tidak ada keraguan sedikitpun. Melihat angka digital itu, saya merasakan sakit tak berdarah. Harapan yang sedari awal dipupuk tinggi-tinggi, perlahan-lahan runtuh.
Ada rasa hangat yang menjalar di sudut mata, yang kemudian luruh menjadi air mata kesedihan. Malam tadi, kepasrahan akhirnya mengambil alih ego saya sebagai seorang fans Argentina. Tidak sanggup saya melihat skor itu. Akhirnya sedikit bergetar, saya non-aktifkan HP.
Saya tidak sanggup lagi melihat sisa waktu yang berjalan. Saya pasrah dalam hati. Saya melihat tidak mungkin Argentina menyamakan kedudukan di sisa kurang lebih 15 menit babak kedua, alih-alih unggul dan memenangkan laga. Meski saya tahu Argentina itu petarung.
Saya pun berbisik lirih: “Argentina akan pulang lebih cepat, menyusul Jerman, Belanda, Brasil, dan Portugal. Siap-siap Argentina akan dibully warganet di media sosial”. Saya pun memutuskan untuk tidur, mencoba melarikan diri dari fakta pahit yang tampak sudah di depan mata.
Namun, ketidakberdayaan itu terbawa hingga ke alam bawah sadar saya. Dalam tidur yang hanya beberapa jam itu, saya disergap mimpi buruk yang teramat pekat. Di dalam mimpi itu, Argentina hancur lebur, harus kalah telak 0-3 dari The Paraohs, julukan tim nasional Mesir.
Sebuah akhir yang tragis, dan sebuah skenario terburuk yang membuat tidur singkat saya terasa sesak dan begitu melelahkan. Namun, kemenangan telak Mesir atas Argentina itu hanya terjadi di alam mimpi. Karena saat terjaga dari mimpi buruk, ada berkah yang merekah.
Ya, ketika saya terjaga, dan kesadaran kembali utuh, realitas di dunia mimpi tidak seburuk di dunia nyata. Dengan perasaan campur aduk, saya kembali mengaktifkan HP. Niat awal saya sebenarnya sudah pasrah dan bersiap menerima cacian dan bully-an di platform media sosial.
Sebenarnya, saya mencoba bijak untuk tidak larut dalam perdebatan tidak sehat mengenai Piala Dunia 2026. Terus terang, saya sedih membaca setiap postingan yang saling merendahkan. Saya tidak respek terhadap nyinyiran, dan komentar-komentar yang penuh kebencian.
Termasuk yang merendahkan negara lain dan pemain lain. Terlebih yang merendahkan Argentina dan bintangnya, Lionel Messi. Ibarat lirik lagu, saya ini tidak seperti dulu lagi yang suka meladeni debat tak sehat. Mencoba bijak itu sulit, selalu dikatakan sok bijak, dan sok suci.
Namun, kalau ingin mengubah orang lain, maka kita sendiri yang harus mengubah diri kita sendiri. Saya kembali mengaktifkan ponsel. Dengan penuh cemas, saya mencari tahu hasil laga Argentina vs Mesir. Alhamdulillah, jagat raya rupanya punya cara sendiri untuk merajut takdir.
Rupanya Argentina mengubah kedudukan tertinggal menjadi sebuah kemenangan dramatis. Di beranda medsos, tidak ada gambar pemain Mesir yang merayakan kemenangan. Yang ada justru potret pemain Argentina yang sedang bersorak dalam euforia kegembiraan luar biasa.
Tampak pula di tengah-tengah mereka, ada pose ikonik Lionel Messi yang sedang menangis haru. Mengetahui kemenangan dramatis Argentina, seketika tubuh saya kaku. Pandangan terpaku pada layar. Air mata kembali jatuh, menjalar ke dagu, kemudian saya tertunduk dalam-dalam.
Tangisan kali ini rasanya sangat berbeda. Jika beberapa jam lalu saya menangis karena pedih dan pasrah, maka saat terjaga, dada saya dipenuhi oleh rasa haru yang membuncah. Itu adalah tangis keharuan, sekaligus tangis kebahagiaan yang teramat magis, karena Argentina lolos.
Ya, Argentina berhasil membalikkan keadaan pada menit-menit terakhir babak kedua, dan lolos ke babak perempat final secara dramatis melalui perjuangan yang melampaui batas logika! Sepak bola sekali lagi membuktikan bahwa ia bukan sekadar hitungan di atas kertas.
Sepak bola adalah tentang keyakinan yang harus diselesaikan hingga peluit panjang berbunyi sebagai tanda berakhirnya laga. Dari malam penuh air mata kesedihan, subuh ini saya dihadiahi air mata kemenangan. Perjalanan “back to back” belum usai. Vamos, Argentina! (LHR)

Posting Komentar untuk "Dari Air Mata Kepasrahan Menjadi Tangis Keharuan: Mesir Ingin Buat Kejutan, Argentina Malah Bikin Keajaiban"