OLEH: Lukman Hamarong
Setiap edisi Piala Dunia selalu memunculkan cerita yang mengejutkan. Jika di Piala Dunia 2022 ada Maroko yang sukses melaju hingga semifinal, maka Piala Dunia 2026 kali ini, ada Tanjung Verde yang terus menjadi perbincangan publik sepak bola dunia.
Bagaimana tidak! Negara kepulauan kecil yang berada di lepas pantai Afrika ini datang sebagai tim debutan, namun kehadirannya bak raksasa baru yang sukses memenangkan hati pencinta sepak bola dunia. Tanjung Verde hadir untuk membuat kejutan.
Lolos fase grup tanpa menyentuh kekalahan, menahan imbang Spanyol (0-0), Uruguay (2-2), dan Arab Saudi (0-0), Tanjung Verde menantang sang juara bertahan, Argentina, di Babak 32 Besar. Di atas kertas, laga ini seharusnya menjadi laga “kucing menangkap tikus”.
Namun, di atas lapangan, yang terjadi malah sebuah pertempuran epik. Tanjung Verde berjuang untuk mengimbangi sang juara bertahan, dan itu sukses dilakukan Tanjung Verde, yang memaksa Argentina bekerja keras sampai dua kali 15 menit perpanjangan waktu.
Lionel Messi cs dipaksa harus memeras keringat hingga tetes terakhir. Tanjung Verde memberikan perlawanan yang luar biasa agresif, disiplin, dan tanpa rasa takut. Skor akhir 3-2 pun menjadi bukti sahih betapa tangguhnya Tanjung Verde untuk dikalahkan siapapun.
Dengan kemenangan yang tidak mudah ini, Argentina berhasil mengamankan tiket lolos ke babak 16 besar. Meski demikian, hasil ini adalah alarm peringatan yang berbunyi sangat nyaring. Tanjung Verde memang kalah, tetapi mereka keluar lapangan dengan kepala tegak.
Sementara bagi La Albiceleste, julukan Argentina, laga kontra Tanjung Verde ini memberikan satu pelajaran berharga bahwa di Piala Dunia, tidak ada istilah tim lemah atau tim semenjana, karena menyepelekan lawan adalah tiket tercepat untuk “pulang kampung”.
Secara momentum, Argentina memang masih berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan gelar alias back-to-back juara. Namun, melihat dinamika permainan, pelatih Lionel Scaloni punya pekerjaan rumah menumpuk. Salah satunya lini depan yang menjadi sorotan.
Memang masih ada Lionel Messi sebagai pusat gravitasi permainan, dan masih dapat bersaing di level tertinggi. Namun, pemegang 8 Ballon d’Or ini perlu sokongan dari pemain lain. Lionel Messi selain bisa sebagai goal getter, juga bisa berfungis sebagai pemberi assist.
Sudah saatnya Scaloni melakukan penyegaran strategis untuk laga berikutnya kontra Mesir di Babak 16 Besar. Secara tradisi, Mohamed Salah cs masih berada di atas Tanjung Verde. Sehingga Scaloni wajib merotasi lini depan dengan memainkan Julian Alvarez dari awal.
Mobilitas, determinasi, serta kemampuan Alvarez dalam membuka ruang dinilai lebih cair untuk mendukung skema ofensif ketimbang Lautaro Martinez yang selalu menjadi starter. Performanya cenderung stagnan, meski sudah mencetak satu gol kontra Yordania.
Menjadikan Lautaro sebagai senjata rahasia dari bangku cadangan mungkin akan lebih efektif saat Argentina ingin menambah daya dobrak lini depannya. Baik Lautaro maupun Alvarez, keduanya tipe striker identik. Bedanya, Alvarez bisa sedikit membuat Messi lebih bertenaga dengan umpan-umpan brilian yang bisa dikonversi Alvarez menjadi gol kemenangan.
Argentina kini sukses melewati satu rintangan terberat yang dihadirkan Tanjung Verde. Namun, ujian sesungguhnya akan tersaji di Babak 16 Besar. Argentina berjumpa Mesir, tim Afrika dengan tradisi sepak bola yang jauh lebih matang dibanding Tanjung Verde.
Menghadapi Mesir, Argentina tidak boleh lagi gagap dalam transisi bertahan dan wajib bermain dengan determinasi sejak peluit pertama dibunyikan. Strategi Scaloni harus dikalibrasi dengan menempatkan Messi sebagai jantung permainan yang mengatur ritme, memecah konsentrasi lawan, serta mengalirkan bola ke penyerang sayap yang lebih segar.
Argentina masih berada di track yang benar untuk mengukir sejarah. Namun, jika mereka tidak segera berbenah dari luka yang digoreskan Tanjung Verde, mimpi mempertahankan trofi bisa saja buyar di tangan Mesir. Jangan sampai terjadi. Begitu harapan fans Argentina. (LHR)

Posting Komentar untuk "Alarm Peringatan buat Argentina: Cukup Tanjung Verde yang Menggoreskan Sedikit Luka"