PT MDA dan UNCP Simulasi Perkuat Penanganan Bencana

8.189 Views

Kegiatan simulasi penanganan bencana. 
LUWU- Sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi tantangan bencana, PT Masmindo Dwi Area (MDA) dan mahasiswa Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP), Selasa (30/6/2026), menggelar simulasi penanganan bencana di Desa Tolajuk, Kecamatan Latimojong. 

Kegiatan ini juga merupakan tindak lanjut pembentukan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) PT MDA yang diimplementasikan dalam Program Jaga Keselamatan Desa, salah satu pilar dalam Program Jaga Desa, yang lahir dari aspirasi masyarakat melalui FORDES MATAPPA. 

Program ini dirancang tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi berlanjut hingga masyarakat memiliki kapasitas dan mekanisme yang siap dijalankan 
ketika menghadapi kondisi darurat.

Berbeda dengan kegiatan sebelumnya yang berfokus pada pengenalan risiko 
bencana dan pembentukan kelembagaan DESTANA, kali ini masyarakat diajak 
mempraktikkan secara langsung berbagai skenario penanganan bencana. Mulai dari 
pembagian peran pengurus DESTANA, penyusunan mekanisme koordinasi, penentuan titik kumpul dan lokasi pengungsian sementara, penyusunan jalur evakuasi, pemasangan rambu evakuasi, hingga simulasi komunikasi darurat sebagai bagian dari uji kesiapsiagaan masyarakat.

Kegiatan tersebut melibatkan Pemerintah Kabupaten Luwu melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial Kabupaten Luwu, Palang Merah Indonesia (PMI), pemerintah desa, FORDES MATAPPA, Pusat Pengembangan dan 
Pengabdian Masyarakat (PUSPENA) Universitas Cokroaminoto Palopo, serta 
masyarakat dari kedua desa. Kolaborasi lintas pihak ini menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesiapsiagaan yang dapat dijalankan secara mandiri oleh 
masyarakat apabila terjadi bencana.

Kepala Teknik Tambang (KTT) MDA, Mustafa Ibrahim, mengatakan kesiapsiagaan masyarakat tidak dibangun melalui teori semata, tetapi melalui latihan 
dan simulasi sehingga setiap unsur di desa memahami peran dan tanggung 
jawabnya ketika menghadapi kondisi darurat.

"Tujuan kami bukan hanya membentuk kelembagaan DESTANA, tetapi memastikan 
kelembagaan tersebut benar-benar siap berfungsi ketika dibutuhkan. Karena itu, 
masyarakat kami libatkan langsung dalam simulasi, mulai dari mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul dan lokasi pengungsian, hingga membangun 
koordinasi antarunsur desa. Harapannya, ketika terjadi kondisi darurat, masyarakat 
tidak lagi bingung harus berbuat apa karena mekanisme respons sudah dipahami 
dan pernah dipraktikkan bersama," ujar Mustafa.

Ketua PUSPENA Universitas Cokroaminoto Palopo, Dr. Ichwan Muis, menjelaskan bahwa simulasi merupakan tahapan penting dalam memastikan sistem kesiapsiagaan yang telah disusun dapat berjalan secara efektif.

"Tujuan kami bukan sekadar membentuk organisasi DESTANA, tetapi memastikan 
seluruh unsur di desa memahami fungsi dan tanggung jawabnya ketika menghadapi 
kondisi darurat. Simulasi menjadi media pembelajaran terbaik karena masyarakat 
tidak hanya mengetahui teorinya, tetapi juga mengalami langsung proses koordinasi, 
evakuasi, dan pengambilan keputusan di lapangan," jelasnya.

Kepala Desa Boneposi, M. Hamka, S.Pd., menyambut baik pelaksanaan kegiatan 
tersebut dan menilai pendekatan yang dilakukan tidak hanya menambah 
pengetahuan masyarakat, tetapi juga memberikan pengalaman langsung dalam 
menghadapi potensi bencana.

"Melalui simulasi ini masyarakat dapat memahami secara langsung apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana, mulai dari mengenali jalur evakuasi, mengetahui titik 
kumpul, hingga memahami peran masing-masing dalam membantu proses 
evakuasi. Ini menjadi bekal yang sangat penting bagi masyarakat kami," ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala Desa Tolajuk, Badarudin mengatakan bahwa penguatan 
kelembagaan DESTANA memberikan fondasi yang lebih kuat bagi desa dalam 
membangun kesiapsiagaan masyarakat.

"Kami mengapresiasi kolaborasi yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam kegiatan ini. Kehadiran DESTANA bukan hanya membentuk sebuah kelembagaan, tetapi juga membangun budaya gotong royong, koordinasi, dan kesiapsiagaan yang diharapkan terus tumbuh di tengah masyarakat," katanya.

Program penguatan DESTANA sebelumnya telah dilaksanakan di Desa Bonelemo dan 
Ulusalu pada tahun 2025. Memasuki tahun 2026, kegiatan dilanjutkan di Desa Boneposi dan Desa Tolajuk melalui rangkaian sosialisasi, penguatan kelembagaan, simulasi kesiapsiagaan, hingga pemasangan rambu evakuasi sebagai bagian dari penguatan sistem mitigasi bencana di tingkat desa.

Ke depan, program ini akan diperluas secara bertahap ke desa-desa lainnya di 
Kecamatan Latimojong berdasarkan hasil pemetaan risiko dan survei lapangan. 
Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat 
kapasitas masyarakat dan kelembagaan Desa Tangguh Bencana di wilayah 
Latimojong. (TOM)

Posting Komentar untuk "PT MDA dan UNCP Simulasi Perkuat Penanganan Bencana"