By: Lukman Hamarong
Piala Dunia selalu punya cara sendiri untuk menuliskan naskah yang tidak terduga. Namun, apa yang terjadi di babak 32 besar Piala Dunia 2026 kali ini benar-benar di luar prediksi siapa pun.
Dua kekuatan utama sepak bola Eropa, Jerman dan Belanda, dipaksa menelan pil pahit. Keduanya tersingkir prematur lewat drama adu penalti yang kejam di hari yang sama. Tragis!
Bagi para pencinta sepak bola, melihat dua raksasa ini mengepak koper lebih awal adalah kejutan besar yang menegaskan satu hal bahwa piala dunia, nama besar sama sekali bukan jaminan.
Saya ingin sedikit mengupas tentang timnas Jerman yang makin hari makin kekurangan bensin di Piala Dunia 2026. Puncaknya, saat Tim Panser sudah kehabisan bensin di hadapan Paraguay.
Padahal di awal babak penyisihan, Jerman begitu perkasa. Meski melawan tim debutan yang tidak masuk radar para pandit sepak bola, Curacao, tetapi skor 7-1 sudah terbilang luar biasa.
Skor njomplang yang ditorehkan timnas Jerman pada debut perdana Curacao di panggung Piala Dunia merupakan sebuah peringatan yang dikirim Jerman buat para rival tradisionalnya.
Pasca-kemenangan itu, timnas Jerman mulai memperlihatkan gelagat penurunan. Meski menang kontra Pantai Gading di laga kedua, tetapi kemenangan itu dianggap berbau keberuntungan.
Benar saja! Jerman akhirnya menderita kekalahan di laga pamungkas fase grup melawan Ekuador. Meski menurunkan tim kedua, tetapi kekalahan ini adalah sinyal bahwa Jerman bermasalah.
Terbukti, langkah Jerman harus terhenti setelah diadang ketangguhan Paraguay. Bermain imbang 1-1 di waktu normal plus perpanjangan waktu, Jerman akhirnya kandas di laga adu penalti.
Anak-anak asuh Der Panzer sebenarnya tampil cukup dominan. Namun, tembok pertahanan yang kuat dari Paraguay dan kokoh bak batu karang membuat lini depan Jerman menjadi frustasi.
Petaka sesungguhnya datang di babak adu penalti. Mental baja yang biasanya menjadi ciri khas Jerman seolah menguap. Jerman harus mengakui keunggulan Paraguay 3-4 melalui penalti.
Kekalahan ini menjadi tamparan keras bagi fans Jerman yang berharap timnya bisa melangkah lebih jauh, sekaligus menebus kegagalan pada turnamen-turnamen mayor sebelumnya.
Setali tiga uang dengan Jerman. Nasib tragis juga menimpa Belanda. De Oranye harus menyusul Jerman usai takluk dari Maroko di babak adu penalti dengan skor tipis 2-3. Setelah imbang 1-1.
Gaya Total Football yang diperagakan Belanda sepanjang laga gagal membongkar kedisiplinan Maroko. Saat laga harus ditentukan lewat titik putih, dewi fortuna justru memihak Maroko.
Yang menarik, baik Belanda maupun Maroko, keduanya memiliki peluang besar untuk melaju ke babak 16 besar. Hanya saja, eksekusi yang kurang tenang membuat Belanda tak beruntung.
Akhirnya mimpi Belanda di piala dunia harus terkubur sangat dini di tangan Maroko. Fenomena gugurnya Jerman dan Belanda di babak 32 besar adalah peringatan keras bagi raksasa lainnya.
Bahkan Brasil pun nyaris masuk kotak lantaran mendapatkan perlawanan yang begitu keras dari Jepang. Gol Cunha pada masa injury time berhasil mengeluarkan Brasil dari lubang jarum.
Piala Dunia membuktikan kualitas antarnegara kini makin menipis. Strategi, ketahanan fisik, serta mentalitas jauh lebih menentukan daripada nama besar dan deretan bintang di atas kertas.
Piala Dunia baru masuk babak 32 besar, namun kita sudah kehilangan dua kandidat juara. Bagi Jerman dan Belanda, kepulangan dini ini menyisakan luka dan sedih yang sangat mendalam.
Namun bagi turnamen itu sendiri, inilah keindahan Piala Dunia. Penuh dengan kejutan, sangat kejam, dan tidak memandang strata juara, sekaligus sangat menarik untuk terus diikuti. (LHR)

Posting Komentar untuk "Jerman dan Belanda Sudah Angkat Koper, Brasil Nyaris, Siapa Lagi Menyusul?"