Konser Kangen Band di Masamba, “Mengawinkan” Hobi dengan Karya Jurnalistik

8.189 Views

 

Oleh: Lukman Hamarong 
Cerita tentang konser Kangen Band di Masamba, belum juga usai. Cerita masih saja berlanjut. Kali ini, bukan soal deskripsi konsernya yang ingar bingar di tengah “hantaman” hujan, tetapi ini soal kebiasaan saya meliput konser band-band papan atas tanah air yang selalu bergerak bergairah. 

Nah, saat pertama kali mengetahui bahwa Kangen Band akan mengisi malam puncak perayaan HUT XXVII Kabupaten Luwu Utara jauh-jauh hari sebelumnya, batin saya mulai berkecamuk saat itu. Godaan untuk meliput sebuah konser besar kembali membuncah. Naluri itu mulai mekar.

Seperti ada gairah yang kembali bangkit setelah sekian lama tertidur pulas. Informasi kedatangan band papan atas tersebut disampaikan langsung pimpinan saya, Kepala Disporapar. Jauh sebelum warganet “ribut” di medsos, saya sudah mengetahui Kangen Band akan konser di Masamba.

Namun, respons saya saat mendengar itu biasa saja. Masih sebatas tahu, belum bereaksi karena belum terkonfirmasi secara resmi. Sas sus soal kedatangan Kangen Band mulai terkuak saat Wakil Bupati menyampaikan kepastian kedatangan Andika Mahesa cs di akun facebook pribadinya.

Pasca-postingan itu, 3-4 hari sebelum HUT ke-27 Kabupaten Luwu Utara, mulailah bermunculan video singkat Andika, sang vokalis yang mengonfirmasi kehadiran Kangen Band di kota Masamba. Video ini masif di-share di medsos, dan flyer-nya berseliweran di berbagai kanal media sosial. 

Meliput sebuah konser musik dengan label artis besar, bukanlah barang baru bagi saya. Dahulu, mendengar suara bernyanyi, dentuman drum, dan distorsi gitar dari satu panggung ke panggung lainnya dari para penyanyi papan atas bukanlah sekadar untuk melampiaskan hobi semata.

Bukan pula untuk melampiaskan kegemaran masa muda semata, dan nongkrong tanpa arah yang jelas. Jika orang lain datang ke konser hanya untuk melepas penat, saya datang dengan misi yang jauh lebih besar, yaitu menikmati, menonton, mempelajari atmosfer, kemudian meliput konser.

Hampir seluruh energi masa muda saya tersedot oleh magnet panggung musik papan atas tanah air. Sebut saja Padi, Jamrud, Slank, Peterpan, Radja, Ungu, NaFF, Ari Lasso, J Rocks, Opick, dan Samsons. Saya menonton konser mereka dengan satu filosofi: “Sambil Menyelam Tangkap Ikan”. Kini, tersisa satu mimpi saya, yaitu meliput konser bang Iwan Fals. Kapan itu terwujud? Entah! 

Menonton konser tidak pernah cukup bagi saya. Harus ada produk peliputan yang mesti saya bagi ke seluruh pembaca. Ada kepuasan tersendiri apabila saya berada di atas panggung dengan kartu pers melingkar di leher. Dari situlah prinsip “sambil menyelam tangkap ikan” saya jalankan.

Saat Kangen Band menginjakkan kakinya di Bumi La Maranginang, Masamba, yang saya saksikan melalui jendela media sosial, saya mulai berpikir untuk tidak berlama-lama dengan aktivitas lain. Saya seperti dipaksa untuk kembali mengangkat kamera dan mengabadikan momen spesial.

Saya teringat istilah Henri Cartier-Bresson yang mengatakan bahwa momen spesial itu tidak akan terulang. Jika saya hanya diam dan melihat keseruan Kangen Band melalui layar ponsel saja, maka saya kehilangan kesempatan menciptakan arsip visual pribadi yang punya nilai lebih tinggi. 

Dan benar saja! Saya kehilangan momen spesial tersebut. Bukan tidak mau bersenyawa dengan atmosfer kedatangan Kangen Band, tetapi ada semangat yang kini mulai berubah. Langkah kaki tak sekuat dulu. Gairah yang dulu meledak-ledak, kini mulai meredup menjadi anggukan kecil.

Bukan karena saya tidak mencintai musik. Bukan pula karena Kangen Band tidak “segarang” 10 tahun lalu. Hanya saja, kadar keinginan itu perlahan mulai menurun, sejurus usia yang juga makin menua. Namun, bukan itu pangkal soalnya. Banyak pertimbangan ketika Kangen Band datang.

Waktu terus beranjak. Jarum jam makin cepat melaju menuju jadwal konser. Namun, saya mesti hadir di tempat lain dalam suasana yang 180 derajat berbeda. Saat konser tersebut berlangsung, saya khusyuk mendengar ceramah takziah dari sebuah desa bernama Desa Laba, Masamba. 

Usai takziah, saya bertanya pada diri sendiri, apakah saya harus berada di sana malam ini dengan kondisi hujan yang begitu deras? Pada akhirnya, kata hati mengalahkan syahwat dunia. Saya lebih memilih untuk bijak menghargai waktu setelah lama hidup dalam gemerlap konser musik. 

Kendati tidak menonton secara langsung, tetapi hasrat untuk menghasilkan produk peliputan dari konser tetaplah membuncah. Ketidakhadiran secara fisik bukan berarti pintu kreativitas tertutup. Justru keterbatasan bisa melahirkan angle baru yang lebih unik dari sekadar liputan langsung.

Berbekal potongan-potongan video pendek yang berseliweran di media sosial, saya merangkainya menjadi satu puzzle informasi yang utuh untuk kemudian saya sajikan kepada pembaca. Tak sulit, karena intuisi itu tidak membutuhkan laporan pandangan mata secara langsung dari lokasinya. 

Begitu mudah kita mencari anggle untuk kemudian mengalir berdasarkan intuisi kita tanpa harus mengeluarkan energi yang belum tentu berpihak kepada kita. Itulah caraku untuk tidak pernah berhenti menulis agar nalar di kepala tetap hidup, dan jiwa di badan tetap sehat membumi. 

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat”. Alhamdulillah, hasilnya sungguh luar biasa. Saya bisa melahirkan berita, meski hanya memanfaatkan video-video pendek yang wira wiri di media sosial.

Sungguh luar biasa bisa “mengawinkan” hobi dengan sebuah karya jurnalistik. Mengabadikan momen, menangkap cahaya dalam bidikan lensa, dan menjadi saksi perjalanan band-band besar dari jarak dekat, sudah sering saya lakukan, dan itu biasa. Beda ketika saya memilih menyimpan kamera dan kartu pers, tetapi justru saya lebih produktif menghasilkan karya. (LHR) 

Posting Komentar untuk "Konser Kangen Band di Masamba, “Mengawinkan” Hobi dengan Karya Jurnalistik"