OPINI! Program MBG: Mesin Baru Ekonomi Desa dan Benteng Perut Keroncongan

8.189 Views

 

Oleh: Harma Jalil (Mahasiswi Pascasarjana UIN Palopo)
Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini berdiri di persimpangan jalan antara kebijakan sosial dan strategi ekonomi makro. Jika dikelola dengan presisi, program ini tidak hanya akan mengisi perut yang lapar, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi yang selama ini lesu di tingkat desa.

Program MBG bukan sekadar proyek pembagian logistik pangan skala besar, tetapi di balik aroma masakan yang mengepul dari dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terdapat cetak biru besar mengenai transformasi sumber daya manusia dan penguatan kedaulatan ekonomi domestik. 

Program MBG ini adalah manifestasi dari teori investasi dini, di mana negara hadir langsung di meja makan rakyatnya untuk memastikan tidak ada otak anak bangsa yang kekurangan nutrisi saat sedang berjuang menyerap ilmu.

Program MBG merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam upaya memenuhi gizi anak Indonesia terhadap isu stunting dan kualitas sumber daya manusia (SDM). 

Pada awal peluncuran program sampai saat ini, polemik program MBG terus ada. Hujatan dan kritikan terus menghiasi sosial media terkait MBG. 

Namun, dalam proses perjalanannya, program ini juga dirancang untuk menyerap tenaga kerja yang didominasi oleh para ibu rumah tangga dan beberapa tenaga kerja lain yang putus sekolah, serta UMKM dalam upaya memberdayakan ekonomi lokal.

MBG sampai saat ini masih tetap eksis sebagai program yang memberikan hasil yang cukup nyata di kalangan siswa dalam upaya memperbaiki ekonomi keluarga. 

Dari beberapa wawancara yang dilakukan dengan salah satu ibu dari orangtua siswa, dikatakan bahwa sejak program ini berjalan, anaknya tidak lagi meminta uang saku dan si Ibu tidak lagi memikirkan perut kosong si Anak di sekolah. 

Hal ini tentunya akan membuat anak sekolah lebih fokus untuk belajar tanpa menahan rasa lapar, karena tidak sarapan dari rumah.

Keberhasilan program MBG tidak boleh diukur dari seberapa banyak kotak makanan (ompreng) yang dibagikan, melainkan seberapa besar penurunan angka kemiskinan di desa penyedia bahan baku dan seberapa tajam peningkatan fokus siswa di kelas.

Usia anak sekolah merupakan masa pertumbuhan krusial setelah seribu hari pertama kehidupan. Ketimpangan asupan gizi pada fase ini berpotensi menyebabkan hidden hunger atau kelaparan tersembunyi, suatu kondisi di mana perut terasa kenyang, tetapi tubuh kekurangan mikronutrisi esensial, seperti zat besi, yodium, dan vitamin. 

Nutrisi yang tepat, terutama protein hewani, adalah bahan bakar utama bagi sinapsis otak. Dengan jaminan gizi di sekolah, kita sedang menciptakan level bermain yang sama (playing field) bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera agar memiliki ketajaman berpikir yang setara dengan anak-anak dari keluarga mampu.

Anak dengan gizi baik memiliki sistem imun yang lebih kuat, yang secara otomatis menurunkan angka absensi sekolah karena sakit. Dalam jangka panjang, ini akan menurunkan beban biaya kesehatan negara (BPJS) karena generasi masa depan tumbuh dengan profil kesehatan yang lebih prima.

Salah satu kritik sekaligus peluang terbesar MBG adalah besarnya anggaran yang dibutuhkan. Namun, jika dilihat dengan kacamata ekonomi sirkular, anggaran ini sebenarnya adalah stimulus ekonomi terbesar bagi perdesaan.

Program MBG harus menjadi pembeli siaga bagi produk petani, peternak, dan nelayan lokal. Jika sebuah dapur SPPG membutuhkan 170 ekor ayam setiap hari, maka peternak ayam di desa tersebut mendapatkan kepastian pasar tanpa harus melalui tengkulak yang panjang. 

Ini merupakan model pemberdayaan ekonomi yang mampu menciptakan jutaan lapangan kerja baru di sektor pengolahan makanan dan logistik.

MBG adalah sebuah langkah berani yang melampaui batas-batas politik praktis. Ini adalah tentang kedaulatan. Bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang memiliki wilayah, tetapi bangsa yang mampu memberi makan anak-anaknya dengan hasil buminya sendiri.

Keberhasilan program ini akan diuji oleh waktu. Jika dalam 10 tahun ke depan kita melihat angka rata-rata tinggi badan anak Indonesia meningkat, skor literasi membaik, dan ekonomi desa berdenyut kencang, maka kita akan mengenang program ini sebagai titik balik kebangkitan Indonesia menuju status negara maju. 

Kita tidak boleh gagal, karena yang dipertaruhkan bukan sekadar anggaran, melainkan nyawa dan masa depan generasi penerus bangsa.

"Jangan biarkan ada anak yang bermimpi besar dengan perut yang keroncongan. Karena di dalam piring itu, ada harapan bangsa yang sedang dipertaruhkan." (**)

Posting Komentar untuk "OPINI! Program MBG: Mesin Baru Ekonomi Desa dan Benteng Perut Keroncongan"