Menjaga Identitas Budaya Sulteng, HBI Pamerkan Memorabilia Hasan Bahasyuan

8.189 Views

 

PALU- Hasan Bahasyuan Institute (HBI) menggelar Pameran Dokumentasi & Arsip Memorabilia Hasan M. Bahasyuan di Palu. Acara ini menyajikan berbagai koleksi arsip langka yang mendokumentasikan perjalanan dan kontribusi almarhum maestro seni dan budaya Sulawesi Tengah tersebut. 

Pameran tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting daerah, antara lain mantan Gubernur Sulawesi Tengah Rusdy Mastura, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah Drs. H. Firmanza DP, S.H., M.Si., Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah Andi Kamal Lembah, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Siti Rachmi Amir Singi, S.Sos., M.Si., Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulteng Andi Kaimuddin, Wakil Bupati Parigi Moutong, serta Ketua KONI Sulawesi Tengah Muhammad Fathur Razaq. Selain itu, hadir pula para pekerja seni, budayawan, serta konten kreator dari berbagai kalangan di Sulawesi Tengah. Kamis, 2/4/2026 bertempat di sekretariat HBI.

Hasan Muhammad Bahasyuan dikenal sebagai maestro seni dan budaya terkemuka asal Sulawesi Tengah yang tak tertandingi dalam merepresentasikan tradisi dan identitas budaya daerah melalui karya-karyanya. Lahir di Parigi, ia aktif sejak era 1960-an menciptakan berbagai lagu dan tarian yang mencerminkan kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya suku Kaili. Karya-karyanya hingga kini terus diinterpretasikan ulang oleh generasi muda sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya bagi kekayaan seni Indonesia. 

Mantan Gubernur Sulawesi Tengah Rusdy Mastura pernah menyebut Hasan Bahasyuan sebagai salah satu sosok paling berjasa di bidang kebudayaan. Ia disejajarkan dengan tokoh besar lainnya seperti Rusdy Toana di politik dan Andi Raga Pettalolo di olahraga. Karya-karya beliau menjadi pilar penting identitas budaya Sulawesi Tengah, terutama dalam memadukan tradisi dengan kreasi baru. Salah satu mahakarya beliau adalah Tari Pamonte, yang diciptakan pada 1957. Tarian ini menggambarkan kegembiraan para gadis petani saat menyambut musim panen padi dan telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Karya tari lainnya meliputi Tari Pontanu yang menggambarkan aktivitas kaum perempuan Kaili dalam menenun sarung, serta Tari Peulucinde. 

Di bidang musik, lagu-lagu ciptaan Hasan Bahasyuan sejak era 1960-an kerap disebut sebagai “lagu kebangsaan” masyarakat Sulawesi Tengah karena kedekatan emosionalnya. Beberapa judul legendaris di antaranya Palu Ngataku yang mendeskripsikan kecintaan terhadap Kota Palu, Ose Jole, Parigi Ri Kareme Nuvula yang menggambarkan keindahan Parigi di bawah sinar rembulan, Tananggu Kaili, Posisani, serta Vose Sakaya dan Mokambu yang kental dengan nuansa tradisional pesisir. Untuk melestarikan warisan tersebut, Hasan Bahasyuan Institute didirikan dan aktif menggelar pagelaran seni, pameran foto perjalanan hidup maestro, serta forum diskusi kebudayaan. 

Direktur HBI Zulfikar Usman SH MH dalam sambutannya menegaskan bahwa lembaga ini bertujuan menjaga kelestarian dan hak cipta karya sang maestro. 

“Kami mengatur izin pementasan karya seperti Tari Pamonte agar orisinalitasnya tetap terjaga,” ujar Zulfikar. 

Selain itu, HBI juga melakukan modernisasi dengan berkolaborasi bersama musisi muda, seperti grup The Mangge, yang merilis ulang lagu-lagu lama dalam aransemen kontemporer melalui album aRtribute To Hasan Bahasyuan. Langkah ini diharapkan membuat warisan budaya tetap relevan bagi generasi sekarang. HBI juga kerap menyelenggarakan Cultural Dialogue sebagai wadah diskusi untuk memperkuat pemahaman dan pelestarian seni budaya Sulawesi Tengah. 

Pameran ini digelar sebagai salah satu rangkaian kegiatan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tengah yang akan jatuh pada 13 April mendatang. Zulfikar Usman menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk kontribusi nyata dalam memperkaya peringatan HUT Sulteng dengan semangat pelestarian budaya daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Zulfikar Usman juga mengemukakan wacana pengusulan Hasan Bahasyuan sebagai Pahlawan Nasional. Menurutnya, kontribusi maestro ini di bidang kebudayaan sudah selayaknya mendapatkan pengakuan tertinggi dari negara. 

“Hasan Bahasyuan telah memberikan warisan yang sangat besar bagi identitas budaya Sulawesi Tengah dan Indonesia secara keseluruhan. Melalui karya-karyanya yang monumental, beliau pantas diusulkan sebagai Pahlawan Nasional di bidang kebudayaan, menyusul tokoh-tokoh besar lainnya dari daerah ini,” kata Zulfikar Usman. 

Ketua KONI Sulawesi Tengah Muhammad Fathur Razaq turut memberikan apresiasi atas sosok Hasan Bahasyuan dan peran Hasan Bahasyuan Institute.

"Hasan Bahasyuan bukan hanya maestro seni, tetapi juga inspirasi bagi semangat disiplin, kreativitas, dan kebanggaan daerah yang sejalan dengan nilai-nilai olahraga. HBI telah melakukan kerja luar biasa dalam melestarikan warisan beliau, sehingga generasi muda dapat terus terhubung dengan akar budaya mereka,” ujar Muhammad Fathur Razaq.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah Drs. H. Firmanza DP, S.H., M.Si. memberikan apresiasi tinggi terhadap sosok Hasan Bahasyuan. “Hasan Bahasyuan adalah teladan bagi generasi muda dalam mencintai dan melestarikan budaya daerah. Melalui karya-karyanya yang sarat nilai lokal, kita diajarkan untuk menjaga identitas Sulawesi Tengah sambil terus berkreasi,” ujar Firmanza. 

Pameran dokumentasi dan arsip memorabilia ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan HBI dalam menghidupkan kembali semangat karya Hasan Bahasyuan di era global. 

Melalui arsip-arsip bersejarah yang dipamerkan, masyarakat diajak untuk lebih mengenal dan menghargai peran maestro asal Parigi yang telah mewariskan kekayaan seni tak ternilai bagi daerah dan bangsa. (ANT)

Posting Komentar untuk "Menjaga Identitas Budaya Sulteng, HBI Pamerkan Memorabilia Hasan Bahasyuan"