JAKARTA— Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI biasanya menjadi momentum bagi para perwira purnawirawan untuk menghadiri upacara seremonial atau reuni korps. Namun, pemandangan berbeda ditunjukkan oleh Mayor Jenderal TNI (Purn.) Dr. Marga Taufiq.
Sebagai Badan Usaha Milik Negara, Perum BULOG memikul tanggung jawab strategis melalui mandat ganda, yakni fungsi pelayanan publik berdasarkan penugasan pemerintah dan fungsi komersial korporasi. Tata kelola logistik pangan nasional menjadi ujung tombak untuk mempertahankan stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pangan pokok, khususnya beras, secara merata di seluruh pelosok negeri.
Mengenakan kemeja kerja Perum BULOG dipadu topi, mantan Pangdam XVI/Pattimura ini justru menghabiskan waktu memantau aktivitas bongkar muat di kompleks pergudangan beras nasional. Tangannya sesekali memeriksa kualitas butiran beras di dalam karung, sembari berdialog dengan para buruh panggul di lokasi.
Bagi lulusan Akademi Militer 1987 yang besar di korps infanteri Kostrad ini, esensi hari jadi tentara kini tidak lagi dirayakan di atas podium upacara. Ruang pengabdiannya telah bergeser ke sektor vital yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan perut masyarakat.
Menjabat sebagai Wakil Direktur Utama Perum BULOG, tanggung jawab Marga Taufiq kini bukan lagi mengawal keamanan teritorial dari ancaman fisik luar. Fokusnya beralih menjadi penyokong stabilitas pangan nasional agar pasokan beras untuk masyarakat tetap terjaga.
Sebagai Badan Usaha Milik Negara, Perum BULOG memikul tanggung jawab strategis melalui mandat ganda, yakni fungsi pelayanan publik berdasarkan penugasan pemerintah dan fungsi komersial korporasi. Tata kelola logistik pangan nasional menjadi ujung tombak untuk mempertahankan stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pangan pokok, khususnya beras, secara merata di seluruh pelosok negeri.
Tantangan operasional ini bertumpu pada beberapa pilar utama, di antaranya menjaga keseimbangan harga di tingkat produsen melalui penyerapan gabah dan beras petani sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sekaligus mengendalikan lonjakan harga pasar melalui intervensi operasi pasar guna meredam laju inflasi. BULOG juga ditugaskan mengamankan pengelolaan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) di jaringan gudang nasional sebagai antisipasi kondisi darurat atau krisis, bersamaan dengan distribusi program bantuan sosial pangan bagi kelompok masyarakat rawan pangan.
Di sisi lain, BULOG dituntut memperkuat kemandirian korporasi melalui lini bisnis komersial yang mencakup perdagangan komoditas pangan non-beras, seperti gula, minyak goreng, dan daging, hingga penyediaan jasa transportasi serta pergudangan logistik. Seluruh ekosistem pangan tersebut kini mulai diintegrasikan melalui modernisasi digital dan sistem pemantauan secara real-time dari sawah hingga gudang guna menjamin akurasi pasokan serta transparansi transaksi dengan petani.
"Pengabdian itu bukan tentang pangkat dan jabatan, tapi tentang ketulusan dan keikhlasan menjaga Bumi Pertiwi," kata Marga Taufiq di sela-sela pengecekan harga bahan pokok di pasaran.
Interaksi langsung dengan masyarakat bawah sebenarnya bukan hal baru bagi Marga Taufiq. Jauh sebelum menyandang pangkat jenderal bintang dua, ia telah mengasah kecakapan teritorialnya di tingkat daerah. Ia tercatat pernah mengemban tugas sebagai Komandan Kodim (Dandim) 1403/Sawerigading pada tahun 2004. Pengalaman memimpin wilayah Luwu Raya yang berpusat di Palopo tersebut membentuk karakternya yang tak segan turun langsung ke lapangan.
Bagi purnawirawan yang kenyang pengalaman operasi militer ini, transisi dari dunia komando ke manajemen logistik pangan merupakan kelanjutan tugas negara. Ia menilai stabilitas dan kedaulatan sebuah bangsa berakar dari ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Menurutnya, aspek pertahanan makro tidak akan berjalan optimal jika pemenuhan pangan pokok masyarakat belum terpenuhi secara merata.
Pendekatan lapangan yang diterapkannya di BULOG tetap mengadopsi pola kerja teritorial yang membumi. Ia aktif melakukan inspeksi mendadak ke area persawahan guna menyerap aspirasi petani di tengah ancaman kekeringan, sekaligus memantau kelancaran jalur distribusi di wilayah terpencil. Penampilan khasnya yang mengenakan topi saat bertugas seolah menjadi penanda gaya kepemimpinannya yang cair dan tanpa sekat birokrasi.
Rekam jejak karier Marga Taufiq mulai dari memimpin satuan teritorial daerah sebagai Dandim 1403 hingga menduduki kursi pimpinan komando daerah militer, menampilkan refleksi tersendiri pada momentum HUT TNI. Menjadi prajurit yang berbakti pada masyarakat tidak selamanya harus bersiaga di basis militer atau medan operasi pertahanan.
Menghadirkan solusi konkret pada kebutuhan dasar hidup orang banyak merupakan wujud nyata dari amanat TNI untuk rakyat. Meski seragam dinasnya kini telah berganti dari corak loreng menjadi kemeja korporasi, Marga Taufiq membuktikan bahwa prinsip dasar pengabdiannya kepada negara tidak pernah purna. (MDT)


Posting Komentar untuk "Cerita Jenderal Bintang Dua Pindah 'Dinas' dari Sektor Pertahanan ke Dapur Rakyat di Momen HUT TNI"