Pagi tadi, Jumat, 2 Oktober 2026, halaman kantor Perumda Tirta Mangkaluku Kota Palopo sepi dari suara mesin kendaraan operasional. Sejak pukul tujuh, ratusan karyawan sudah berkumpul. Sebagian masih mengenakan seragam dinas, sebagian lagi berbaju koko putih. Mereka berdiri di tanah halaman yang mulai pecah-pecah karena kemarau panjang.
Pukul 07.30 WITA saf dirapatkan. Mereka melaksanakan salat istisqa, salat sunah memohon hujan, dilanjutkan doa bersama. Di wajah para petugas lapangan yang biasa sibuk memperbaiki pipa bocor dan menghadapi keluhan pelanggan, kali ini tampak raut lelah dan kepasrahan.
“Secara teknis semua lini sudah kami maksimalkan. Sekarang kami mengetuk pintu langit,” kata seorang petugas bagian produksi yang ikut dalam barisan.
Krisis air bersih di Kota Palopo sudah berlangsung sekitar dua bulan. Kemarau memangkas debit air baku di intake utama hingga di atas 75 persen. Sungai Mangkaluku dan Sungai Latuppa secara signifikan. Instalasi Pengolahan Air Minum kehilangan kemampuan produksi normal. Wilayah hilir seperti Kecamatan Wara Selatan, Wara Timur, dan Sendana paling merasakan dampaknya. Di banyak rumah, air mati total berhari-hari.
Namun di luar faktor alam, manajemen baru Perumda Tirta Mangkaluku sebenarnya sedang menanggung beban masa lalu. Selama bertahun-tahun, jumlah pelanggan di Palopo terus bertambah pesat tanpa diimbangi dengan investasi penambahan kapasitas produksi air yang memadai.
Kondisi infrastruktur jaringan juga memperparah keadaan. Jalur pipa transmisi air baku di sepanjang KM 14 hingga KM 16 Battang, Kecamatan Wara Barat, berulang kali pecah. Pipa-pipa tua ini sudah lama kehilangan kelenturannya akibat minimnya peremajaan struktural oleh direksi terdahulu. Begitu tekanan air fluktuatif, pipa di kawasan perbukitan tersebut langsung jebol dan melumpuhkan distribusi ke ribuan rumah tangga.
Di lapangan, tekanan sosial juga terasa. Direktur Perumda Tirta Mangkaluku, Steven Hamdani, beberapa kali turun langsung menyetir truk tangki membagikan air darurat dari pagi hingga malam. Lima armada tangki dikerahkan setiap hari. Namun pasokan darurat itu belum mampu menutup seluruh kebutuhan warga. Di sejumlah titik, warga terpaksa membeli air galon, menggunakan mesin pompa, bahkan ada yang ke mesjid untuk mandi dan buang air.
Bagi para karyawan, salat istisqa pagi ini menjadi ruang jeda. Air bagi mereka bukan sekadar angka meter kubik yang ditagihkan tiap bulan, melainkan nama baik yang dipertaruhkan di hadapan publik.
“Setiap hari kami di lapangan berhadapan langsung dengan kemarahan warga. Kami paham mereka kesal. Tapi kondisi di lapangan memang airnya yang tidak ada,” kata Mail karyawan Perumda Tirta Mangkaluku.
Doa bersama berakhir menjelang siang. Ratusan karyawan membubarkan barisan secara tenang. Mereka melipat sajadah, kembali ke meja kerja dengan langkah yang sama, tapi dengan hati yang sedikit lebih teguh. Besok mungkin mereka akan kembali mengisi truk tangki, menjawab telepon marah, dan menjelaskan kondisi sungai yang terus menyusut. Tapi pagi ini, setidaknya, mereka sudah bersujud
Siang tadi langit Palopo masih terik. Pipa di Battang tetap harus diawasi, truk tangki kembali jalan. Usaha teknis dilanjutkan, kali ini dengan harapan yang turut digantungkan ke langit.
Di kota yang kehausan, sekelompok karyawan air bersih memilih memulai hari dengan meminta hujan. Bukan karena mereka kehabisan akal, melainkan karena mereka juga manusia yang peduli, dan percaya bahwa doa bisa menjadi bagian dari usaha. (MDT)

Posting Komentar untuk "Air Tak Datang, Mereka Bersujud"