Langkah Sunyi Menuju Puncak: Refleksi 43 Tahun Gubernur Andi Sudirman Sulaiman

8.189 Views

OLEH: Lukman Hamarong 
Dulu, namanya adalah sebuah teka-teki. Tak ada dalam radar. Pun tak pernah disebut dalam hiruk-pikuk pusaran politik kekuasaan di era Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo. 

Ia datang bukan dari kebisingan politik yang memonopoli panggung kekuasaan. Namun, sejarah kerap memiliki jalannya sendiri untuk memilih siapa yang duduk di tampuk politik tertinggi.

Hingga pada Pilkada 2018 silam, sentuhan takdir mempertemukanny dengan Nurdin Abdullah. Sebuah nama yang muncul dari bawah, kemudian mencapai puncak elektabilitas di Sulsel.

Bersama Nurdin, ia memenangkan kontestasi politik tertinggi di Sulsel. Apakah ia beruntung? Bisa jadi! Sebab ia berpasangan dengan sosok yang sudah populer di Sulsel, bahkan Indonesia.

Ia pun resmi menjabat Wakil Gubernur. Roda berputar cepat, hingga ia memegang kendali sebagai Pelaksana Tugas Gubernur, sebelum dilantik secara definitif pada Maret 2022 di usia 38 tahun.

Ia pun dinobatkan sebagai salah satu gubernur termuda di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, ia kembali menerima mandat rakyat di Pilkada 2024. Kali ini, ia menggandeng Fatmawati.

Lewat kemenangan mutlak di Pilkada 2024, ia pun kembali memimpin Sulawesi Selatan hingga tahun 2029. Sebuah capaian gemilang yang sebelumnya mungkin tak ada di dalam benaknya.

Di balik kursi nomor satu, ia bukanlah tipe pemimpin yang gemar berjanji. Ia dikenal apa adanya, bicara dengan data dan logika keadilan, serta berakar pada prinsip religiusitas yang kuat.

Sosok itu bersama Andi Sudirman Sulaiman. Bagi kami yang mengabdi di daerah jauh, ia adalah sosok yang bekerja bukan lewat retorika kosong, melainkan lewat sentuhan keberpihakan. 

Kacamata pemerataan dan kepeduliannya menjangkau wilayah-wilayah terpencil, termasuk Luwu Utara, tempat di mana kami mencurahkan segenap pikir dan tenaga untuk daerah tercinta. 

Infrastruktur serta perhatian yang mengalir ke wilayah-wilayah pinggiran adalah bukti bahwa ia  senantiasa hadir hingga ke batas wilayah-wilayah terluar, tertinggal, terpencil, dan terisolir. 

Namun, dari semua pencapaian birokratis dan politik tersebut, ada satu sisi personal yang paling membekas, yaitu kerendahan hatinya yang tak pernah berubah menjadi figur yang berjarak.

Ia selalu welcome dan terbuka menerima ajakan berdiskusi dalam ragam topik, khususnya ketika berbicara tentang masa depan dan kontribusi nyata untuk Tana Luwu, khususnya Luwu Utara.

Tepat 25 September kemarin, usia Sang Gubernur genap 43 tahun. Di hari istimewanya, angka 43 bukan sekadar penanda bertambahnya usia, melainkan simbol kematangan seorang nakhoda.

Dari pemuda yang namanya tak terdengar, kini berdiri kokoh sebagai figur sentral yang membawa Sulsel berdaya saing global, tanpa melupakan denyut nadi rakyatnya di pelosok-pelosok desa.

Selamat ulang tahun ke-43, Pak Gub. Teruslah menjadi pemimpin yang mendengar, yang merawat keadilan, dan tidak pernah lelah mencintai daerah ini dari pesisir hingga pegunungan. (LHR)

Posting Komentar untuk "Langkah Sunyi Menuju Puncak: Refleksi 43 Tahun Gubernur Andi Sudirman Sulaiman"