OLEH: Lukman Hamarong
Menjadi bagian dari sebuah kepanitiaan sering kali menghadirkan dinamika tersendiri. Bagi saya, amanah yang diberikan untuk membantu menyukseskan kegiatan adalah tanggung jawab besar yang membutuhkan penjiwaan, tidak sekadar gagah-gagahan karena mendapat kepercayaan.
Saya selalu berprinsip bahwa setiap kepercayaan yang diberikan, wajib dituntaskan. Ini pula yang saya tanamkan dalam jiwa saat mendapatkan titah mengelola informasi. Mendapatkan amanah di bidang dokumentasi dan publikasi bukan sekadar tugas normatif, melainkan panggilan jiwa.
Membawa kamera, membidik momen, hingga merekam setiap jengkal peristiwa adalah aktivitas rutin yang begitu akrab bagi saya. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana mengubah kumpulan momen menjadi tulisan bernyawa yang dapat mengetuk hati pembaca.
Tak hanya itu, tulisan yang dapat meninggalkan inspirasi tentu menjadi harapan. Karena sebagus apapun tulisan, jika pembaca tak dapat memetik pelajaran dari tulisan yang telah kita sajikan, itu sama saja tulisan kita hanya akan menjadi pajangan berdebu dan tidak tersentuh sama sekali.
Prinsip inilah yang membakar semangat saya saat mendapatkan kesempatan emas untuk meliput rangkaian kegiatan Tablig Akbar Ustaz Abdul Somad di Masamba pada 26 Juli 2026 lalu. Ibaratnya, pucuk dicinta ulam pun tiba. Di saat saya masih merenda mimpi, saya malah dibukakan jalan.
Kunjungan UAS di Masamba menjadi magnet bagi masyarakat. Antusiasme jemaah mendengar ceramah UAS bekitu tinggi. Jemaah tumpah ruah demi mendengarkan tausiah sarat hikmah dari UAS. Sebagai peliput, momen ini tak boleh berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak karya.
Mengusung filosofi “sambil menyelam tangkap ikan”, penugasan saya ini tak hanya berfokus pada panggung akbar tempat UAS menyampaikan syiar Islam, tetapi juga merambah ke sudut lain yang lebih santai, tetapi penuh makna, yaitu Wisata Permandian Air Panas Pincara, Masamba.
Menghasilkan produk peliputan yang baik, kita dituntut untuk tidak sekadar hadir di lokasi, tetapi juga wajib untuk mengambil peran dalam setiap kesempatan. Butuh kesungguhan, kecapakan, serta kepekaan rasa, serta jiwa yang melekat pada setiap tanggung jawab yang diemban.
Ketika tugas tak lagi dipandang sebagai beban, maka di situlah tulisan kita mulai berbicara kepada publik. Momentum Tablig Akbar dan kunjungan ke Pincara ini bukan sekadar sebagai informasi, melainkan pesan keindahan tentang syiar Islam yang menyejukkan jiwa dan memeluk raga. (LHR)

Posting Komentar untuk "Sambil Menyelam Tangkap Ikan: Sambil Bertugas, Wujudkan Mimpi Bertemu UAS"