Akar Sejarah yang Menyatukan: Jejak Darah Luwu di Tanah Melayu, Riau, dan Sumatera

8.189 Views

OLEH: Lukman Hamarong
"Orang kalau mau dimusnahkan, bukan dibom-atom, tetapi dicabut dari akar sejarahnya. Nah, sekarang anak-anak kita tidak mengerti sejarah, sehingga ketika mereka ketemu, biasa saja." — Ustaz Abdul Somad (UAS)

Kunjungan Ustaz Abdul Somad (UAS) ke Objek Wisata Permandian Air Panas Pincara Masamba, usai memimpin Tablig Akbar di Lapangan Taman Siswa Masamba, menyisakan cerita sejarah yang mendalam. 

Di hadapan Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, Wakil Bupati Jumail Mappile, serta warga setempat, UAS membuka lembaran sejarah masa lalu yang membuktikan masyarakat Luwu memiliki ikatan emosional, darah, dan budaya yang kuat dengan Johor, Riau, dan Sumatera.

Bukan sekadar diikat oleh bingkai NKRI atau kesamaan agama, Tana Luwu ternyata memiliki andil besar dalam pembentukan peradaban Kesultanan atau Kerajaan Melayu hingga lahirnya standar Bahasa Indonesia yang kita gunakan hari ini. 

Berikut adalah rekam jejak sejarah agung hubungan darah Luwu dengan bumi Melayu yang diungkapkan oleh UAS:

Kisah bermula dari seorang bangsawan Kerajaan Luwu bernama Opu Daeng Celak. Ia diangkat oleh Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kesultanan Melayu Islam Johor (Malaysia) sebagai Yang Di-Pertuan Muda Riau II yang memegang kendali atas wilayah Riau. 

Opu Daeng Celak memiliki cucu perempuan yang mashyur, bernama Engku Putri Raja Hamidah. Cucunya ini kemudian menikah dengan Sultan Mahmud Riayat Syah atau Sultan Mahmud Syah III. 

Menariknya, hadiah pernikahannya adalah sebuah pulau dengan masjid yang megah yang disebut dengan Pulau Penyengat, sebuah pulau strategis yang kini menjadi situs warisan dunia (heritage) yang diakui UNESCO. 

Di pulau ini berdiri megah sebuah masjid dengan arsitektur sarat makna filosofis Islam, yaitu: 17 kubah yang melambangkan jumlah rakaat salat wajib sehari semalam; 13 anak tangga yang melambangkan rukun salat; serta lima pintu yang melambangkan rukun Islam. 

Di kompleks belakang masjid tersebut, terdapat makam pahlawan besar Raja Haji Fisabilillah yang merupakan putra dari Opu Daeng Celak, sekaligus ayah dari Engku Putri Hamidah, yang telah gugur sebagai syahid dalam perlawanan gigih melawan kaum penjajah, Belanda.

Keluarga besar Opu Daeng Celak tidak hanya melahirkan para pemimpin dan pejuang, tetapi juga tokoh intelektual yang mengubah wajah bangsa Indonesia, yaitu Raja Haji Fisabilillah yang juga memiliki putra bernama Raja Ahmad. Raja Ahmad memiliki anak bernama Raja Ali Haji.

Seperti diketahui, Raja Ali Haji adalah ulama, sejarawan, dan sastrawan besar pencipta Gurindam 12 yang diabadikan di pinggir makam Engku Putri Hamidah. 

Bahkan lebih dari itu, Tata Bahasa Indonesia yang baku berakar dari Bahasa Melayu Riau, dan pakar yang pertama kali merumuskan serta membukukannya adalah Raja Ali Haji, seorang keturunan bangsawan Opu Daeng Celak dari Tana Luwu.

Tak hanya di Kepulauan Riau, jejak darah Luwu juga menancap kuat di daratan Sumatera melalui kakak dari Opu Daeng Celak, yaitu Opu Daeng Perani. 

Anak perempuan Opu Daeng Perani adalah Daeng Khadijah yang kemudian menikah dengan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Sultan Siak ke-4/Raja Alam). Dari pernikahan bangsawan Luwu dan Sultan Siak ini, lahirlah Tengku Embung Badariah.

Tengku Embung Badariah kemudian menikah dengan seorang keturunan Nabi Muhammad SAW, yaitu Sayyid Usman Syahabuddin. 

Pernikahan agung ini menyatukan tiga darah besar sekaligus, yakni darah Melayu, darah Luwu, dan darah Sayyid atau Keturunan Nabi Muhammad SAW, yang kemudian menurunkan tokoh-tokoh penguasa penting di Sumatera.

Pernikahan Tengku Embung Badariah dengan Sayyid Usman Syahabuddin kemudian melahirkan anak laki-laki bernama Sayyid Ali. Ia menjadi Sultan ke-7 atau Sultan Syarif Ali atau Sayyid Ali di Kerajaan/Kesultanan Syiak Sri Indrapura. 

Kemudian adiknya, Sayyid Abdurrahman, menjadi Sultan I Kerajaan Pelalawan. Sekarang jadi Kabupaten Pelalawan. 

Kemudian punya lagi adik bernama Sayyid Ahmad. Sayyid Ahmad ini menjadi Yang Dipertuan Negeri Tebing Tinggi yang sekarang menjadi Kota Tebing Tinggi di Sumatera Utara.

Dari fakta sejarah yang diungkap UAS dengan sangat mendetail tersebut menciptakan aliansi tiga darah yang kemudian menguasai beberapa kesultanan/kerajaan di beberapa wilayah Sumatera.

Sebut saja Sayyid Ali yang menjadi Sultan ke-7 di Kesultanan Siak Sri Indrapura, Sayyid Abdurrahman yang menjadi Sultan pertama Kerajaan Pelalawan (kini Kabupaten Pelalawan), serta Sayyid Ahmad yang menjadi Yang Dipertuan Negeri Tebing Tinggi (kini Kota Tebing Tinggi, di Sumatera Utara).

Dari fakta sejarah yang diceritakan UAS secara gamblang ini, ada pesan penting yang tentu sangat menarik untuk kita renungkan bersama, yaitu bagaimana kita memiliki semangat yang sama guna menjaga warisan sejarah melalui sebuah karya. 

Melihat begitu masifnya sebaran keturunan dan pengaruh Luwu di Johor, Riau, hingga Sumatera Utara, UAS menyampaikan sebuah pesan visioner kepada para pemimpin daerah di Tana Luwu, termasuk para insan kreatif, yaitu

"Saya mau ini tidak sekadar ceramah, podcast, atau khutbah saja, tetapi bagi insan film, ini bisa dibuatkan filmnya atau animasinya atau kartunnya, ataupun novelnya, supaya anak-anak kita ini mengerti sejarah."

Dengan mengenalkan sejarah ini, generasi muda Tana Luwu, Riau, dan Sumatera dapat menyadari bahwa hubungan emosional mereka bukan sekadar ikatan administratif dalam satu negara (NKRI) atau kesamaan keyakinan (Islam), melainkan ikatan darah dan akar sejarah yang mengakar kuat melintasi pulau dan zaman. (LHR)

Posting Komentar untuk "Akar Sejarah yang Menyatukan: Jejak Darah Luwu di Tanah Melayu, Riau, dan Sumatera"