Rupiah di Mata Serumpun

8.189 Views

 

Foto-Ilustasi. 
Oleh: Mubarak Djabal Tira 
Beberapa hari lalu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto kembali menyampaikan bahwa rupiah bukan satu-satunya mata uang yang melemah. Menurutnya, mata uang tetangga juga ikut tertekan. Pernyataan itu memang tidak sepenuhnya salah. Namun, jika dilihat lebih teliti, rupiah sedang mengalami pelemahan yang lebih parah dibandingkan kebanyakan negara di kawasan.

Sepanjang 2025–2026, ringgit Malaysia justru menjadi salah satu mata uang terbaik di Asia. Sementara rupiah terus merosot hingga menyentuh level-level terendah baru. Dalam setahun terakhir, rupiah kehilangan sekitar 10–13 persen nilainya terhadap ringgit. Satu ringgit yang dulu sekitar Rp3.000-an kini sudah mendekati Rp4.500. Dolar Singapura pun semakin mahal.

Ini menunjukkan bahwa masalah rupiah tidak murni karena dolar AS yang kuat, melainkan juga karena faktor domestik yang membuat kepercayaan pasar terus terkikis.

Dampaknya sudah terasa di lapangan. Warga Malaysia dan Singapura kini semakin sering datang berbelanja ke Batam dan wilayah perbatasan. Daya beli mereka membengkak karena kurs, sementara bagi pekerja Indonesia, belanja ke seberang atau membeli barang impor kini terasa semakin mahal.

Presiden Prabowo sempat menyebut bahwa masyarakat desa tidak bertransaksi dengan dolar. Memang benar. Tapi efek kurs tetap merembes ke harga bensin, pupuk, hingga sembako yang dikonsumsi sehari-hari.

Yang cukup ironis, Malaysia yang tidak ikut Board of Peace justru mampu menjaga ringgitnya lebih baik. Sementara Indonesia yang berpartisipasi dengan harapan mendapat posisi lebih kuat, rupiahnya malah kalah saing.

Pemerintah memang menghadapi tekanan global yang berat. Namun, ketika depresiasi rupiah jauh lebih dalam dibanding tetangga, sulit rasanya hanya menyalahkan faktor eksternal. Ada pertanyaan besar soal fundamental ekonomi dan kebijakan yang perlu dijawab.

Stabilitas rupiah bukan sekadar angka di layar. Ia menentukan daya beli rakyat, daya saing industri, dan kepercayaan investor. Semakin lama dibiarkan, semakin mahal harga yang harus dibayar kemudian. (**)

Posting Komentar untuk "Rupiah di Mata Serumpun"