JAKARTA- Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal melontarkan kritik terbuka terhadap frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Dalam video berdurasi tujuh menit yang diunggah di platform X pada Jumat malam, 30 Mei 2026, Dino menyebut Prabowo menghabiskan satu dari enam hari masa jabatannya di luar negeri sejak dilantik.
Dino, yang pernah dianugerahi Bintang Mahaputra oleh Prabowo sendiri, memposisikan diri sebagai “teman yang jujur”. Ia mengaku mewakili keresahan komunitas hubungan internasional dan masyarakat luas yang mulai “gaduh”.
“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan luar negeri. Semenjak menjabat menjadi Presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri,” ujar Dino dalam video tersebut. Ia menambahkan, pola ini “tidak lazim dan di luar batas kewajaran”.
Menurut Dino, setiap kunjungan kepala negara memakan biaya puluhan hingga ratusan miliar rupiah, termasuk tim pendahulu (advance team), pesawat kepresidenan, akomodasi, keamanan, protokol, dan logistik lainnya. Kritik ini muncul di tengah perhatian publik terhadap prioritas pemerintahan, terutama ketika beberapa kunjungan berlangsung bersamaan dengan bencana domestik seperti banjir besar di Sumatra.
Sebagai pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino menyampaikan lima saran konkret:
Pertama, memaksimalkan diplomasi virtual. Dino mencontohkan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum yang telah 17 kali berkomunikasi dengan Donald Trump melalui telepon tanpa kunjungan fisik. “Pertemuan tatap muka biasanya hanya menghasilkan 1–2 jam substansi, sisanya acara seremonial,” katanya.
Kedua, memanfaatkan forum multilateral dengan formula "1+8”. Kehadiran di G20, PBB, ASEAN Summit, atau Davos mestinya bisa dimanfaatkan untuk bertemu banyak pemimpin sekaligus. Dino menyebut kasus Presiden Finlandia Alexander Stubb yang ingin bertemu Prabowo di New York tetapi tidak mendapat respons memadai.
Ketiga, perencanaan yang lebih profesional dan transparan. Agenda kunjungan sebaiknya disusun setahun sebelumnya dan diumumkan minimal satu minggu sebelum keberangkatan.
Keempat, lebih aktif mengundang tamu negara ke Indonesia, seperti pola yang diterapkan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Kelima, mendelegasikan kunjungan teknis kepada Menteri Luar Negeri Sugiono beserta tim kecil, sebagaimana praktik era Menlu Hasan Wirayuda, Marty Natalegawa, dan Retno Marsudi.
Hingga berita ini diturunkan, Istana Kepresidenan, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, maupun Menlu Sugiono belum memberikan tanggapan resmi.
Video Dino langsung viral dan memicu perdebatan sengit di media sosial. Sebagian besar netizen mendukung kritik tersebut, menekankan pentingnya efisiensi anggaran di tengah tantangan ekonomi dan masalah domestik. Sementara sebagian lain membela Prabowo dengan alasan bahwa Indonesia sebagai negara besar memerlukan kehadiran aktif di panggung global.
Dino Patti Djalal, diplomat senior yang kerap menyampaikan analisis kebijakan luar negeri melalui media sosial, kembali menunjukkan posisinya sebagai suara kritis namun solutif. Video terbarunya ini mencerminkan ketegangan antara ambisi diplomasi global pemerintahan Prabowo dengan tuntutan akuntabilitas dan prioritas dalam negeri. (**)

Posting Komentar untuk "Dino Patti Djalal Kritik Intensitas Kunjungan Luar Negeri Prabowo"