OPINI! Kembali ke Rp17.000, Mengapa Kita Harus Mengingat Habibie

8.189 Views

 

Oleh: Mubarak Djabal Tira
Jarang ada presiden dengan masa jabatan sesingkat 17 bulan yang mampu meninggalkan jejak ekonomi sedalam B.J. Habibie. Publik lebih sering mengenangnya sebagai insinyur jenius yang romantis, atau tokoh transisi yang membuka keran demokrasi. Namun, di balik narasi itu, Habibie melakukan sesuatu yang secara teknis nyaris mustahil: menarik Rupiah dari jurang Rp16.800 per dolar AS pada puncak krisis 1998, hingga mendarat di kisaran Rp7.000–Rp8.000 pada akhir masa jabatannya, Oktober 1999.

Ia memulihkan hampir separuh nilai tukar dalam waktu kurang dari dua tahun, di tengah negara yang nyaris lumpuh total.

Saat dilantik pada 21 Mei 1998, Habibie mewarisi 'rumah yang terbakar'. Rupiah terdepresiasi lebih dari 80 persen, bank-bank kolaps, dan kepercayaan internasional berada di titik nadir. Habibie, yang bukan seorang ekonom murni, memahami satu hukum besi krisis: kembalikan kepercayaan (trust) terlebih dahulu, baru bicara pertumbuhan.

Langkah pertamanya adalah 'operasi senyap' di sektor perbankan. Melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), ia membedah bank-bank yang busuk dan menyelamatkan yang tersisa. Lahirlah Bank Mandiri pada 1998 sebagai hasil konsolidasi empat bank pemerintah yang bermasalah. Hingga kini, Mandiri tetap menjadi pilar stabilitas keuangan kita.

Kedua, sebuah langkah visioner yang menjadi fondasi ekonomi modern Indonesia: memandirikan Bank Indonesia. Melalui UU Nomor 23 Tahun 1999, BI resmi menjadi lembaga independen yang tak lagi bisa disetir syahwat politik eksekutif untuk membiayai proyek ambisius. Independensi inilah yang mengembalikan kredibilitas kebijakan moneter kita di mata dunia.

Ketiga, keberanian bernegosiasi dengan IMF. Meski menerima paket bantuan 43 miliar dolar AS, Habibie tidak menjadi 'kerbau dicucuk hidung'. Saat IMF menuntut pencabutan subsidi BBM dan listrik secara radikal, ia menolak. Baginya, di tengah rakyat yang sedang sesak napas, mencabut subsidi energi hanya akan memicu inflasi liar dan kekacauan sosial. Ia memilih melindungi daya beli rakyat demi pemulihan dari akar rumput.

Keempat, ia paham bahwa ekonomi adalah bayangan dari politik. Dengan membebaskan pers dan tahanan politik, serta menggelar pemilu 1999 yang jujur, ia mengirim sinyal pada investor: Indonesia bukan lagi 'negara sakit', melainkan demokrasi yang mulai sehat.

Kini, tepat pada 19 Maret 2026, kita seperti melihat dejavu. Rupiah kembali bergerak di angka psikologis Rp16.900–Rp17.000 per dolar AS. Tekanan global makin kencang, defisit melebar, dan ketegangan geopolitik membuat harga energi tak menentu. Di saat pasar mulai cemas dan otoritas moneter bekerja keras melakukan intervensi, memori tentang Habibie menjadi sangat relevan.
Habibie membuktikan bahwa kondisi seburuk apa pun bisa dibalikkan. Syaratnya, pemimpin harus berani memprioritaskan langkah struktural di atas pencitraan atau ketakutan dikritik. Ia tahu urutan logika pemulihan; ia mendahulukan perbankan dan kepercayaan moneter sebagai fondasi utama.

Habibie mungkin bukan ekonom dengan gelar mentereng, tapi ia adalah negarawan yang tahu kapan harus tegas dan mana yang harus diselamatkan lebih dulu. Di saat Rupiah kembali mendekati level yang dulu membuat negeri ini gemetar, pelajaran dari Sang Teknokrat ini adalah kompas yang tidak boleh kita abaikan. (****)

Posting Komentar untuk "OPINI! Kembali ke Rp17.000, Mengapa Kita Harus Mengingat Habibie"