![]() |
| Dinas LH Palopo terus berupaya mengatasi tumpukan sampah di beberapa sudut kota. |
PALOPO- Pasca Hari Raya Idul Fitri 1447 H, tumpukan sampah yang menyebar di berbagai sudut Kota Palopo menjadi perbincangan hangat di kalangan warga, lonjakan volume sampah akibat libur panjang dan peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat memicu keluhan di media sosial, termasuk julukan “Palopo Bau” yang kian populer karena bau tak sedap dari sampah yang teronggok berhari-hari.
Foto dan video sampah menggunung di pinggir jalan, pasar tradisional, serta kawasan permukiman ramai beredar di platform Facebook, dan Instagram. Sejumlah warga mengungkapkan kekecewaan atas lambatnya penanganan. “Kota ini jadi paling kotor dan bau setelah Lebaran,” tulis salah seorang netizen di grup komunitas lokal.
Wakil Ketua II DPRD Kota Palopo, Alfri Jamil SE MM, ikut menyuarakan keprihatinan. Ia menilai penanganan pasca-Lebaran menunjukkan kurangnya prioritas terhadap isu kebersihan kota yang berdampak langsung pada kenyamanan masyarakat. Alfri Jamil mendorong optimalisasi pengelolaan retribusi sampah agar Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor ini dapat ditingkatkan.
Dana tersebut, menurutnya, bisa dialokasikan untuk penambahan armada pengangkut, peningkatan operasional Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLH-Pertanahan), serta program edukasi dan infrastruktur pengelolaan sampah yang lebih memadai.
“Retribusi sampah harus dikelola transparan dan optimal. Ini bisa jadi solusi jangka panjang agar masalah sampah tidak berulang setiap momen besar seperti Lebaran,” kata Alfri Jamil kepada media.
Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kota Palopo mengakui adanya peningkatan volume sampah hingga 30-50 ton per hari dibandingkan hari biasa, sesuai pola yang kerap terjadi pada periode libur besar. Kepala DLH-Pertanahan, Drs Rachmad MSi, menyatakan pihaknya telah memaksimalkan seluruh armada yang tersedia, termasuk dump truck, pick up, dan arm roll, yang dioperasikan secara intensif sejak hari-hari pertama pasca Lebaran.
“Kami langsung bergerak ke lapangan dan berkoordinasi dengan kelurahan. Armada tambahan dari pemerintah kelurahan kami pinjam bergilir untuk menjangkau titik sulit,” ujar Drs. Rachmad. Langkah ini melanjutkan pengalaman program “Jumat Bersih” yang rutin digelar untuk membersihkan titik rawan.
Menanggapi kritik di media sosial, termasuk tagar dan julukan “Palopo Bau”, serta masukan dari DPRD, Kadis DLH menegaskan bahwa pengangkutan hanya satu bagian dari solusi. “Kami sangat mendengar keluhan warga dan menjadikannya sebagai motivasi. Kami terbuka atas saran optimalisasi retribusi. Namun, edukasi masyarakat tetap kunci. Tanpa kesadaran memilah sampah dari sumber dan menghindari pembuangan liar, masalah ini akan terus berulang,” tambahnya.
Pemkot Palopo terus gencar mensosialisasikan pemilahan sampah organik dan anorganik melalui kunjungan ke sekolah, pemukiman padat, dan tempat usaha. Warga diimbau membawa sampah ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang ditentukan serta tidak membuang sembarangan ke sungai, saluran air atau pinggir jalan, khususnya saat produksi sampah meningkat.
Drs. Rachmad, yang baru menjabat sebagai Kepala DLH-Pertanahan setelah sebelumnya memimpin Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, membawa pendekatan respons cepat ke bidang ini. “Kebersihan Palopo adalah tanggung jawab bersama. Kami mengapresiasi kritik konstruktif dari warga maupun DPRD. Mari berkolaborasi agar kota ini kembali bersih dan lepas dari stigma negatif,” pungkasnya.
Dengan penguatan operasional pengangkutan, pendekatan edukasi berkelanjutan, serta potensi peningkatan retribusi, Pemkot Palopo berupaya segera membersihkan sisa tumpukan sampah pasca-Lebaran sekaligus mencegah kejadian serupa di masa mendatang, sambil merespons aspirasi masyarakat dan wakil rakyat melalui berbagai saluran. (MUBARAK DJABAL TIRA)

Posting Komentar untuk "Disorot Warga, Kadis-LH Palopo: Masalah Sampah Tanggung Jawab Kita Bersama!"