![]() |
| Lionel Messi. |
BAGI para pembenci, Lionel Messi adalah sasaran empuk untuk dijadikan “samsak” bully-an, dan hujatan. Namun, kejeniusan Messi di lapangan acapkali membungkam para pembenci yang selalu melihat legenda hidup ini dari sisi negatifnya.
Alih-alih membalas dengan kata-kata, ia merespons cacian dengan sejumlah rekor yang tak masuk akal, umpan-umpan matang, dan gol-gol ajaib yang gantian membuat penonton “planga plongo”. Messi selalu punya cara untuk mengubah hujatan menjadi tepuk tangan.
Kemampuannya itu merupakan bukti ketangguhan mental Messi. Hal ini kembali ia tunjukkan saat Argentina berjumpa Austria pada matchday kedua grup J Piala Dunia 2026 yang berlangsung dini hari tadi. Di mana ia sukses memborong dua gol.
Kemenangan mutlak yang memastikan langkah Argentina menuju babak 32 besar ini sebelumnya diwarnai oleh penalti gagal Messi. Di awal babak pertama, Argentina mendapatkan hadiah penalti setelah Lautaro Martinez dijatuhkan di kotak terlarang.
Alih-alih mencetak gol, bola sepakannya justru melenceng di samping tiang gawang. Kegagalan Messi ini langsung “digoreng” oleh para pembenci di lini masa media sosial. Namun, bukan Messi namanya kalau tidak membuat pembencinya malu sendiri.
Lionel Messi di atas lapangan memang terlihat santai. Ia tampak lebih banyak berjalan ketimbang berlari. Tangannya sesekali menggaruk kepala, lalu mengelus janggut di dagunya. Gestur ini yang kemudian “digoreng” dengan satu label “planga-plongo”.
Timeline digital seketika penuh dengan cemoohan dan bully-an. Ia dianggap sudah kehilangan magisnya. Padahal mengira Messi telah habis adalah kesalahan besar. Benar saja! Setengah jam kemudian, ia membayar penalti gagal dengan sebuah gol melalui skema yang indah.
Amunisi para haters yang tadinya sudah dimuntahkan untuk merayakan kegagalan penalti Messi seketika menjadi “senjata makan tuan”. Ya, ibarat boomerang, amunisi kebencian itu mengenai muka sendiri, dan seketika menjadi malu “berjemaah”.
Perlu diketahui, sepak bola di kaki Messi tak pernah sesederhana statistik lari atau ekspresinya. Ketika dunia mengira Messi sedang buntu, sebenarnya ia sedang membaca peluang. Saat para pembenci sibuk mengetik status hujatan, ia sedang menghitung momentum.
Hasilnya? “Si Planga-Plongo” ini kembali menghukum Austria dengan satu gol berkelas lainnya saat waktu sudah memasuki masa injury time di pengujung babak kedua kelar. Lagi-lagi ia sukses membungkam jari-jari pembenci yang sudah telanjur menjamah tombol kebencian.
Dua gol yang tidak hanya membungkam seisi stadion, tetapi juga menyapu bersih semua narasi miring yang berseliweran di kanal media sosial. Lewat sepasang gol itu, Argentina tidak sekadar menang. Mereka juga mengunci tiket ke babak 32 besar sebagai juara grup J.
Lionel Messi lagi-lagi membuktikan sebuah tesis lama. Bahwa ia tidak perlu berlari sepanjang laga untuk menang dan menjadi yang terbaik. Ia hanya butuh berjalan, mengamati, mengelus janggut, dan pada saat yang tepat, meledak untuk membuat dunia kembali berdecak kagum.
Messi memang pandai membolak-balikkan hati para pembencinya. Dua gol ke gawang Austria ini membuatnya resmi melampaui rekor Miroslave Klose sebagai top skor sepanjang masa piala dunia dengan 18 gol. Jumlah ini berpotensi bertambah, karena Argentina melaju ke babak 32 besar, dan masih menyisakan satu laga pamungkas di grup J. (LHR)

Posting Komentar untuk "Seni “Planga-Plongo” Messi: Berjalan, Garuk Kepala, Elus Jenggot, dan Gol"