PENAS: Menembus Sekat Geografis, Naluri Wartawan, Jejak Langkah Penyuluh, dan Humas

8.189 Views

 

Oleh: Lukman Hamarong
Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan yang dipusatkan di Provinsi Gorontalo, tepatnya di Kabupaten Gorontalo, memang telah resmi ditutup oleh Presiden Prabowo Subianto pada 25 Juni 2026 kemarin. Namun, saya masih merasakan betapa besar resonansi yang ditimbulkan dari perhelatan akbar bernama PENAS ini. Bagaimana tidak! Saya telah merasakan langsung atmosfer PENAS ini di dua kesempatan, dari tiga kesempatan yang saya dapatkan. 

Bagi sebagian orang, PENAS mungkin sekadar agenda seremonial atau pameran pembangunan pertanian yang rutin dilaksanakan setiap 3 tahun sekali. Namun, bagi saya, PENAS adalah sebuah panggung megah tempat bertemunya gagasan, inovasi, dan para penggiat sektor pertanian dari seluruh penjuru negeri ini. Dari tiga kali kesempatan yang menghampiri, dua di antaranya berhasil saya konversi menjadi catatan perjalanan hidup yang tak terlupakan.

Langkah pertama saya di ajang akbar ini bermula pada PENAS XIV Malang 2014. Ada kebanggaan tersendiri kala itu. Saya menjadi satu-satunya penyuluh pertanian yang diberi amanah berangkat ke Malang di luar Koordinator BPP. Bukan karena dinilai sebagai penyuluh terbaik, tetapi waktu itu oleh Kepala BKP3, saya dinilai bisa berperan ganda mengonversi catatan perjalanan PENAS menjadi lebih informatif. Tidak sekadar datang, duduk, dengar, jalan-jalan, lalu pulang.

Berada di tengah-tengah puluhan ribu pelaku pertanian, membuka mata saya bahwa betapa kaya pertanian Indonesia. Di Malang, naluri untuk mengabadikan momen dan menarasikan instrumen mulai bergejolak. Memulai perjalanan darat dari Masamba-Makassar, kemudian menempuh perjalanan udara Makassar-Surabaya, dan dilanjutkan perjalanan darat Surabaya-Malang menjadi catatan perjalanan paling mengesankan bagi saya. Apalagi saya memimpikan melihat langsung orang nomor satu di Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Saya memang bukan pemilih SBY di Pilpres. Namun, hasrat melihat beliau tetaplah tinggi. Apalagi kalau diberi kesempatan bertemu sambil interview. Seperti diketahui, setiap PENAS digelar, maka pembukaannya selalu digelar meriah, megah, dan mewah. Salah satu daya pikatnya, kehadiran Presiden untuk membuka acara PENAS secara resmi. Sekaligus menjadi panggung strategis untuk menunjukkan komitmennya terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan.

Ajang terakbar bagi pelaku pertanian Indonesia ini akan dimanfaatkan Presiden untuk melakukan showcase keberhasilan pemerintah, sekaligus menjadikan PENAS sebagai etalase nasional untuk memamerkan capaian pemerintah di sektor ketahanan pangan, teknologi pertanian terbaru, dan seabrek program dan inovasi pertanian lainnya. Kemegahan PENAS menjadi simbol “kesuksesan” bagi pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan pemerintah.

Bukan SBY yang sejak keberangkatan ke Malang menjadi mimpi bertemunya penyuluh pertanian dengan presidennya. Karena mimpi itu lenyap seiring berbunyinya sirine panjang sebagai tanda dimulainya PENAS. Pasca-pembukaan, saya “menyelinap” masuk ke kerumunan massa di atas panggung utama dengan maksud menemui Presiden pasca-protokoler usai. Mimpi saya kandas. Orang nomor satu di republik ini berlalu dan menghilang dari kerumunan massa.
 
Saya pun tak patah semangat. Dari kerumunan massa di atas panggung utama, pandangan saya tertuju pada satu sosok yang sudah tidak asing bagi saya. Wajahnya familiar karena kerap tampil di layar televisi. Sosok itu adalah Gatot Pujo Nugroho, Gubernur Sumatera Utara. Pertemuan dengannya menjadi salah satu kenangan ikonik yang berhasil saya kunci dalam bidikan kamera. Saya pun mengabadikan momen langka tersebut dengan berfoto bersamanya. 

Tiga tahun berselang, takdir membawa saya kembali ke perhelatan serupa, tetapi dengan peran yang sama sekali berbeda. Pada PENAS XV Aceh 2017, saya datang bukan lagi sebagai penyuluh pertanian, tetapi sebagai Humas yang bertugas lebih spesifik lagi, yakni mengabarkan partisipasi Kontingen Kabupaten Luwu Utara di daerah “Serambi Mekkah”, julukan Provinsi Aceh, yang sudah menjadi tugas pokok saya kala itu, yang tertuang dalam surat perintah tugas dinas. 

Jika di Malang, saya berperan sebagai peserta yang menyerap ilmu pertanian, maka di Aceh, tugas saya adalah memotret, mencatat, dan mengabarkan berbagai kejadian menarik selama PENAS berlangsung. Di Aceh, “radar” jurnalistik saya makin tajam untuk mencari sesuatu dan mengejar sumber berita. Saya pun bertekad untuk tidak melewatkan peluang berburu narasumber penting, termasuk mengabadikan momen berharga bersama Gubernur Aceh, Dr. H. Zaini Abdullah. 

Bagi orang Aceh, Zaini adalah sebuah nama yang familiar nan bersejarah kala itu. Diketahui, Zaini adalah mantan Menteri Kesehatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang juga turut serta dalam penandatanganan perjanjian damai MoU Helsinki pada 2005 yang diinisiasi oleh Wakil Presiden Mohammad Jusuf Kalla saat itu. Di tengah padatnya agenda peliputan, PENAS juga menawarkan bonus, berupa kesempatan mengeksplorasi destinasi wisata ikonik daerah tuan rumah.

Dari bentang alam Malang hingga pesona sejarah dan budaya di Aceh, semua terekam rapi dalam memori saya. Di Malang saya sudah mengunjungi masjid 1.000 pintu atau Masjid Tiban yang berlokasi di Turen, Kabupaten Malang. Masjid megah 10 lantai ini terkenal dengan arsitektur unik bergaya Timur Tengah. Saya juga mengunjungi Wisata Kebun Buah di Kota Batu. Destinasi wisata ini menawarkan sensasi memetik langsung dari pohon berlatar udara sejuk pegunungan.

Di PENAS XIV Malang 2014, saya juga tidak menyia-nyiakan mengunjungi makam Bung Karno, Presiden I Indonesia, di Kabupaten Blitar. Meski harus menempuh perjalanan satu-dua jam, tetapi hasrat berziarah ke makam Bung Karno tetap tinggi. Perjalanan dari Malang ke Blitar lumayan memakan waktu lama, tetapi rasa lelah terbayar lunas begitu sampai di makam Sang Proklamator. Hasrat untuk datang langsung mendoakan dan mengenang jasa-jasanya begitu kuat.

Di PENAS Aceh 2017, naluri eksplorasi wisata saya malah makin menguat. Menurut saya, Aceh itu ibarat paket lengkap yang punya daya tarik magis. Mulai dari sejarahnya yang kuat, bentang alam yang masih perawan, sampai budaya kopinya yang melegenda. Begitu kita ke sana, rasanya sayang kalau cuma diam di area PENAS. Beberapa objek wisata yang saya singgahi terbilang kelas satu. Di antaranya Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi pusat spiritual di Aceh. Masjid ini memukau dengan arsitektur megah dan halaman berpayung elektrik bergaya Nabawi. 

Saya juga mengunjungi Museum Tsunami Aceh, monumen bersejarah yang didedikasikan untuk mengenang tragedi tsunami 2004, sekaligus pusat edukasi kebencanaan. Yang tak bisa saya lupa adalah saat mengeksplorasi wisata “Kilometer 0 Indonesia” di Kota Sabang. Monumen bertinggi 22,5 meter ini adalah simbol pemersatu Nusantara dari Sabang sampai Merauke yang menyajikan panorama laut lepas yang menakjubkan. Saya tercatat sebagai pengunjung ke-174.496. 

Namun, puncak kebahagiaan selama meliput PENAS di Aceh adalah momen ketika saya melihat wajah Jokowi dari jarak yang dekat untuk pertama kalinya. Pengalaman ini terasa sangat berbeda dibandingkan saat meliput Presiden SBY di Malang yang begitu eksklusif. Jokowi justru sebaliknya. Usai membuka acara, beliau langsung turun dari panggung dan menyalami peserta satu per satu, dan salah satu tangan yang beruntung menjabat tangan beliau adalah tangan saya sendiri.

Aksi spontan Jokowi ini membuat Paspampres kelabakan. Mereka tak mengira orang nomor satu di Indonesia itu akan turun dari atas panggung dan menerobos sistem protoker. Bahkan Jokowi menyodorkan tangannya ke arah saya untuk bersalaman. Ia seorang Presiden, turun menyapa, dan menyalami peserta. Rasanya sulit saya percaya. Kerendahan hatinya turun langsung menyapa adalah sebuah tindakan yang patut diapresiasi dan menuai respek mendalam dari publik. 

Bagi saya, momentum PENAS yang saya ikuti bukan sekadar menggugurkan kewajiban kedinasan. PENAS adalah ruang sakral bagi saya untuk memenuhi hasrat dan naluri kewartawanan yang saya bawa dari daerah asal menuju daerah tuan rumah. PENAS adalah sebuah panggilan jiwa untuk mengeksplorasi, mewawancarai, dan merekam setiap jengkal peristiwa penting dalam perhelatan raksasa tersebut. Namun, saya juga punya kejadian unik saat PENAS XIII di Tenggarong.

Ada rasa kilas balik yang menggelitik jika mengingat PENAS XIII Tenggarong 2011. Saat itu, karena satu dan lain hal, saya terpaksa harus membatalkan keberangkatan ke PENAS. Namun, kegagalan berangkat ke Pulau Kalimantan justru menjadi bahan bakar yang membuat kehadiran saya di Malang dan Aceh jauh lebih emosional dan penuh totalitas. Absennya saya di PENAS XIII membuat saya sadar bahwa kesempatan menghadiri PENAS adalah sebuah kemewahan.

Sebab PENAS bukan sekadar titik kumpul para penggiat dan pelaku pertanian, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan yang ideal membicarakan problematika pertanian, tempat di mana saya selaku ASN bisa meleburkan dedikasi profesi saya dengan gairah seorang jurnalis, serta menghasilkan cerita-cerita bermakna yang melampaui sekat-sekat garis geografis itu sendiri. PENAS Gorontalo adalah bukti nyata betapa ajang ini mampu menyatukan dan mempersatukan. (LHR) 

Posting Komentar untuk "PENAS: Menembus Sekat Geografis, Naluri Wartawan, Jejak Langkah Penyuluh, dan Humas"