OLEH: Lukman Hamarong
Dalam beberapa tahun terakhir, kita acapkali mendengar istilah GELISHA, yang merupakan akronim dari Gerakan Like and Share di lini masa media sosial, khususnya kalangan ASN di lingkup instansi Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Luwu Utara.
GELISHA merupakan sebuah metode penyebarluasan informasi publik yang dilahirkan oleh Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo-SP). Terobosan ini lahir dari kegelisahan akan rendahnya jangkauan berita pembangunan di platform media sosial, seperti di Facebook, Instagram, Aplikasi X, YouTube, dan TikTok.
Logikanya sederhana, jika seluruh ASN “menyerbu” konten-konten Pemda Luwu Utara dengan jempol mereka, maka algoritma pemberitaan, termasuk konten lainnya, tentu akan terangkat ke permukaan. Sehingga membantu pemda dalam penyebarluasan informasi publik.
Program GELISHA ini merupakan warisan dari pemerintahan sebelumnya yang berangkat dari miskinnya penyebaran informasi yang masif di ranah media sosial. Sehingga banyak program dan kegiatan pemda yang sebenarnya pro terhadap publik, namun tidak sampai ke pintu-pintu warga karena tidak adanya “peluru” publikasi yang siap “ditembakkan”.
GELISHA lahir untuk mengatasi persoalan tersebut. ASN Luwu Utara digerakkan untuk membantu dalam menyebarluaskan informasi-informasi pembangunan daerah. Namun, strategi ini seringkali terjebak pada angka-angka kosong. ASN belum tersadarkan akan pentingnya publikasi.
GELISHA ibarat terobosan seksi tanpa aksi. ASN sepertinya lupa dengan adagium berikut ini: “Jika Ingin Menguasai Dunia, maka Kuasai Informasi.” Betapa pentingnya informasi dalam rupa berita. ASN ibarat barisan robot yang hanya menjalankan instruksi jika digerakkan. Bukan karena adanya kesadaran kolektif untuk memasifkan penyebarluasan informasi.
Di sinilah terobosan terbaru Diskominfo-SP melalui gerakan IKLAS yang merupakan akronim dari “Ikut Komentar, Like and Share” hadir sebagai evolusi yang lebih menarik, organik dan strategis. IKLAS hadir untuk memberikan warna baru bagi hidupnya gerakan penyebarluasan informasi yang lebih atraktif dan diyakini lebih bersenyawa dengan ASN dibanding terobosan sebelumnya.
Perubahan metode penyebarluasan informasi dari GELISHA ke IKLAS bukan sekadar perubahan tanpa makna, melainkan sebuah pergeseran paradigma dari deseminasi pasif menjadi interaksi aktif. Karena ASN sebagai motor penggerak wajib memanaskan mesin bernama IKLAS.
Dengan gerakan IKLAS ini, pemerintah daerah tidak lagi sekadar berteriak di ruangan yang hampa,
karena ada wadah atau ruang bagi warganet untuk bertanya, memberikan masukan, atau sekadar merasa didengarkan segala keluhan dan aspirasinya. Di sinilah kemudian gerakan IKLAS hadir sebagai jembatan informasi antara pimpinan dan masyarakat.
Gerakan IKLAS menuntut konten pemberitaan yang lebih menarik dan komunikatif. Pegawai atau admin di ranah media sosial harus terpacu untuk merespons, menjelaskan, serta hadir sebagai sosok manusia di balik layar monitor, bukan sekadar mesin pengunggah foto seremonial.
Transisi dari GELISHA ke IKLAS merupakan langkah cerdas untuk menghidupkan kembali “ruh” informasi dan komunikasi publik. Dengan mengajak semua pihak untuk tidak hanya membagikan, tetapi juga berdiskusi, maka pemerintah daerah sedang membangun kepercayaan publik.
Informasi yang tersebar luas itu penting, tetapi informasi yang dipahami dan didiskusikan itu jauh lebih berharga. Selamat datang era IKLAS, era di mana berita pemerintah bukan lagi sekadar pajangan tanpa dibaca, melainkan sebagai bahan percakapan untuk membangun daerah.
Gerakan IKLAS ini telah di-launching beberapa waktu lalu oleh Andi Abdullah Rahim. Bupati Luwu Utara ini menegaskan bahwa publikasi kegiatan pemerintah bukan hanya tugas satu instansi saja, tetapi tanggung jawab bersama seluruh perangkat daerah lingkup Pemda Luwu Utara. (****)

Posting Komentar untuk "OPINI! Habis GELISHA Terbitlah IKLAS: Terobosan Penyebarluasan Informasi Publik yang Lebih Bernyawa"